Dewan Pers

Dark/Light Mode

Pidato Di Forum PBB Secara Virtual

Jokowi Lembut, Tapi Nendang

Jumat, 24 September 2021 07:35 WIB
Presiden Jokowi pidato di Sidang Majelis Umum ke-76 PBB secara virtual dari Istana Kepresidenan Bogor, Kamis (23/9/2021). (Foto: BPMI Setpres)
Presiden Jokowi pidato di Sidang Majelis Umum ke-76 PBB secara virtual dari Istana Kepresidenan Bogor, Kamis (23/9/2021). (Foto: BPMI Setpres)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Jokowi pidato di Sidang Majelis Umum ke-76 PBB, kemarin. Dalam pidatonya, eks Wali Kota Solo itu bicara soal penanganan pandemi, pemulihan perekonomian global, ketahanan iklim, hingga perang dan terorisme. Gaya pidato Jokowi lembut, tapi isinya nendang.

Jokowi berpidato secara virtual dari Istana Kepresidenan Bogor. Dalam kesempatan itu, Jokowi tampil resmi. Dia mengenakan setelan jas warna biru gelap dengan dasi warna merah menyala.

Berita Terkait : Luhut Tak Ada Tandingannya

Selama hampir 7 menit, Jokowi berpidato di atas mimbar dengan menggunakan bahasa Indonesia. Gaya pidatonya tenang. Suaranya lembut dengan sesekali memberi pengalaman disertai gerakan tangan.

Apa yang disampaikan? Jokowi mengawali pidato dengan menyampaikan empat persoalan yang dihadapi dunia saat ini. Soal pandemi, pemulihan ekonomi, ketahanan iklim, serta konflik dan perang.

Berita Terkait : Santri Di Aceh Semangat Divaksin, Jokowi Happy

“Melihat perkembangan dunia saat ini, banyak hal yang harus kita lakukan bersama-sama,” ajak Jokowi.

Soal pandemi, Jokowi menilai hasil sidang umum PBB ini harus memberikan harapan bahwa pandemi Corona bisa tertangani dengan cepat, adil, dan merata. Sayangnya, kemampuan dan kecepatan antarnegara dalam menangani Corona termasuk vaksinasi, sangat timpang.

Berita Terkait : Menlu Marise Payne: Kemitraan Indonesia-Australia, Lanjutkan!

Politisasi dan diskriminasi terhadap vaksin masih terjadi. “Hal-hal ini harus bisa kita selesaikan dengan langkah-langkah nyata. Di masa depan, kita harus menata ulang arsitektur ketahanan kesehatan global, global health security system,” kata Jokowi.

Selain itu, lanjut Jokowi, diperlukan mekanisme baru untuk penggalangan sumber daya kesehatan global, baik pendanaan vaksin, obat-obatan, alat-alat kesehatan dan tenaga kesehatan secara cepat dan merata di seluruh negara.
 Selanjutnya