Dewan Pers

Dark/Light Mode

Jangan Benturkan Panglima Dengan KASAD

Kamis, 15 September 2022 07:40 WIB
Prof. Tjipta Lesmana
Prof. Tjipta Lesmana

RM.id  Rakyat Merdeka -
Oleh: Prof. Dr. Tjipta Lesmana
Pengamat MIliter/Dosen Tamu Sesko TNI  

Kecurigaan bahwa Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa hendak dibenturkan, atau diadu-domba dengan Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD), Jenderal TNI Dudung Abdurachman mencuat dan viral setelah Anggota Komisi I DPR-RI, Effendi Simbolon mengeluarkan pernyataan bernada insinuasi dan kasar dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi I DPR dengan TNI dan Kementerian Pertahanan pada 5 September yang lalu.

Dalam RDP tersebut, Simbolon melancarkan kritiknya yang sangat keras terhadap pimpinan TNI, khususnya Kepala Staf Angkatan Darat. RDP tanggal 5 September sebetulnya hendak membahas anggaran belanja TNI tahun 2023. Simbolon minta supaya pembahasan Anggaran dikesampingkan dulu. "Kita hadirkan Kepala Staf Angkatan Darat, hadirkan Panglima TNI, untuk membahas….. kami banyak sekali [mendapatkan] temuan-temuan insubordinasi, disharmoni, ketidakpatuhan. Ini TNI kayak gerombolan, lebih-lebih [dari] Ormas jadinya, tidak ada kepatuhan.

Berita Terkait : Sambo, BBM & Politisi Yang Ngebet Nyapres

Kami ingin tegas ini, jangan lupa penggerak daripada kekuatan itu presiden dan DPR. Bukan hanya presiden. Tanpa persetujuan DPR, Presiden tidak bisa gerakkan TNI. TNI hanya alat, hanya Instrumen. Bapak-bapak sebagai jenderal itu hanya nakhoda sesaat, tapi selamatkan TNI-nya. Ini semua [anggota] fraksi prihatin. Ada apa ketidakpatuhan si A dengan si B. Ini porak-poranda ini TNI!”

Simbolon kemudian minta Ketua Sidang untuk bersifat terbuka, karena …… karena kita justru semua hadir di sini untuk dapat penjelasan dari Panglima TNI, dari Kepala Staf Angkatan Darat, bukan dari Wakasad dan dari Menhan.”

Selama 20 menit lagi, Simbolon melontarkan unek-uneknya – dari intonasi rendah, menengah hingga sangat tinggi.

Berita Terkait : Jangan Naikkan Harga Pertalite Rp. 10.000!

Hampir dipastikan Sebagian besar personil TNI – dari kopral sampai jenderal tidak senang bahkan tersinggung dan gusar mendengar pernyataan Simbolon yang bersifat sarkastis dan kasar ini. Seorang yang mengaku Kopral Angkatan Darat, Kopral Arif Marah dan bersumpah mau cari Simbolon sampai ke ujung langit, sebelum anggota DPR itu minta maaf kepada publik, khususnya TNI secara terbuka.

Seorang Danrem di Lampung berpangkat Brigadir Jenderal mengeluarkan pernyataan yang tidak kalah keras, didampingi seluruh Stafnya, seolah mengajak Simbolon berduel atas serangan Simbolon yang begitu keras dan kasar.

Ricuh di ruang sidang RDP Komisi I dan pimpinan TNI meledak, menurut hemat kita, terutama kesalahan pimpinan Sidang. Topik pembahasan RDP hari itu sudah jelas, yaitu membahas anggaran belanja TNI. Tatkala Simbolon minta agar topik itu dikesampingkan, diganti dengan pembahasan berbagai masalah yang katanya ada dalam tubuh TNI seperti insubordinasi, disharmoni dan ketidakpatuhan pimpinan TNI, Ketua Sidang mestinya stop, tidak boleh membiarkan Simbolon “nyelonong” terus, tapi minta persetujuan para anggota Komisi I lainnya untuk ganti topik! 
 Selanjutnya