Dewan Pers

Dark/Light Mode

Polisi Tembak Polisi Di Rumah Jenderal Polisi

Sabtu, 16 Juli 2022 07:59 WIB
Prof. Tjipta Lesmana
Prof. Tjipta Lesmana
Ex. Dosen Tamu SESPIM dan SESPATI Polri

RM.id  Rakyat Merdeka - Dalam perjalanan sejarah Polri selama era reformasi, kasus “Polisi Tembak Polisi” mungkin tercatat paling spektakuler dengan menyedot perhatian masyarakat yang begitu luas. Kenapa?

Karena kasus ini (a) terkait saling tembak antar personel Polri (menurut Kabid Penerangan Umum Humas Polri) yang menewaskan salah satunya – Brigadir J; (2) kasus menyerempet petinggi Polri, Kadiv Propam, Irjen Pol Ferdy Sambo, (3) terkait juga dengan tindak pelecehan seksual, menurut Kabid Penerangan Umum Humas Polri, yang dewasa ini sedang menarik perhatian publik setelah 3 kasus pencabulan yang mengebohkan publik, Herry Witawan, pimpinan sebuah pesantren di Bandung, pencabulan seks yang menyerempet putera ulama terkenal Jombang pimpinan pesantren di Jombang, serta pimpinan Sekolah SMA SPI di Magelang.     

Faktor keempat yang membuat kasus “Polisi Tembak Polisi” jadi pusat perhatian media: yaitu hembusnya aroma cover-up yang terkesan diupayakan secara sistematis oleh pihak Polri sejak awal. Ketua Komisi III DPR-RI, Bambang Wuryanto, anggota Komisi I DPR-RI Mayor Jenderal TNI Purnawirawan TB Hasanudin dan mantan KABAIS, Laksamana Muda TNI Ponto Sulaeman, dalam keterangan persnya, semua menyoroti adanya kejanggalan-kejanggalan dalam narasi kasus yang menggegerkan ini, seraya memperingatkan Polri untuk terbuka, tidak melakukan cover-up.       

Berita Terkait : Homo Sektus Mengancam Homo Moralis

Soal dugaan cover-up yang dilakukan sejak awal oleh pihak Polri, serangan paling keras dan paling berani datang dari seorang ex Perwira Tinggi Polisi (perempuan), Brgjen Polwan Sri Suari dalam diskusinya dengan TVOne kemarin sore (15 Juli 2022). Apa arti melindungi satu orang, dua orang, 10 orang,  bahkan 100 orang, tapi nama institusi (Polri) rusak? Di balik itu, ex. Jenderal Polisi ini, menurut saya, memiliki sense of belonging yang kuat, sangat mencintai institusi polisi, tempat ia berkarya sebelumnya. Maka, ia tidak sudi nama Polri rusak hanya untuk menutupi muka oknum-oknum petinggi Polri.            

 

Beberapa upaya menutupi kasus kematian Brigadir J antara lain: (a) Kenapa otopsi jenazah Brigadir J dilakukan kilat, tidak ada foto, tidak ada keterangan lengkap dari dokter forensic yang melakukan otopsi; (b) Kenapa Polri baru mengumumkan kasus ini kepada publkik setelah 3 hari kejadian? Untuk di-set dulu? (c) Brigadir J, seorang polisi berpangkat rendah bisa seenaknya memasuki kamar tidur (yang jelas-jelas sangat private) isteri Irjen Pol Sambo dan di sana – kata Humas Polri dalam keterangannya Selasa yang lalu --  ia berusaha melecehkan seksual isteri Irjen Pol Sambo? Apakah bukan indikasi hubungan kedua orang ini sudah begitu dekat? (d) (Ketika terjadi tembak-menembak antara Brigadir J dan Bharada E , kenapa rentetan tembakan Brigadir J tidak ada satu pun yang menembus tubuh Bharada E; sebaliknya, 5 peluru yang dimuntahkan oleh pistol Bharada E, semuanya, menembus tubuh dan jari-jari Brigadir J? Kata keterangan resmi Humas Polri, karena posisi Bharada E yang di atas, menembak ke bawah; sedang Brigadir J menembak dari bawah ke atas. (e) kenapa mayat Brigadir J secara kilat diotopsi? (f) Mengapa sehari setelah Humas Polri memberikan keterangan pers, CCTV dekat rumah petinggi Polri itu, menurut Ketua RT setempat, seorang pensiunan Mayor Jenderal Polisi ex Kapolda Aceh, diganti dekodernya dengan alasan karena yang lama rusak, dan isi CCTV yang sebelumnya itu tidak pernah dibuka kepada publik?  (g) kenapa hp Brigadir J dan beberapa keluarganya tiba-tiba “OFF” alias tidak bisa dipakai setelah berita tentang tewasnya J beredar luas?  (f) Nasib Bharada E hingga hari ini masih misterius. Padahal 5 peluru yang dimuntahkan dari pistol Bharada E telah menewaskan J, Masih tidak cukupkah E dinyatakan sebagai tersangka, dikejar dan ditangkap? Anda masih ingat kasus tewasnya seorang perampok pada April 2022 karena dilawan oleh 2 korban hingga perampok tewas? Kedua orang korban perampokan langsung ditetapkan sebagai tersangka.            

 

Brigjen Polwan (purn) Sri Suari dengan ksatria mengingatkan Kapolri untuk tidak menutupi kasus ini demi membela petinggi Polri tertentu. Saya jadi teringat suasana ketika beberapa kali mengajar di Sespim dan Sespati Polri. Selalu saya ingatkan para siswa – berpangkat AKBP dan Kombes – untuk tidak melakukan tindak pidana korupsi dan melakukan tindakan yang dapat menjelekkan nama baik Polri. Gebrakan keras di podium selalu saya lakukan Ketika mengelurarkan peringatan itu.            

Berita Terkait : Kapan Pimpinan TNI Mampu Memberangus KKB Di Papua?

Sebaliknya, waktu saya mengajar di Secapa Polri, Sukabumi, saya selalu memberikan motivasi kepada anak-anak muda dari seluruh Nusantara yang baru memasuki korps Polri. Usai mengajar seluruh murid yang berjumlah sekitar 200 orang melepas saya dengan nyanyian “Kapan-Kapan Kita Bertemu Lagi”. Saya selalu terharu dan nyaris meneteskan air mata saat itu melihat idealisme anak-anak muda anggota Polri.

Namun, perilaku seseorang selalu dipengaruhi berbagai faktor. Seringkali kita dipengaruhi lingkungan yang jelek. Jika kolam sudah bau dan tercemar, perilaku kita tidak jarang ikut bau dan tercemar. Khusus mengenai kepemimpinan Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Kapolri, nasibnya punya kemiripan dengan Jenderal Tito. Kepada kawan seorang Jenderal TNI bintang 3 waktu itu saya bertanya: Bagaimana menurut Anda Pak Listyo? “He is a good guy,” tapi saya tidak tahu apakah dia berani melawan tekanan-tekanan dari pata seniornya. Jenderal Listyo melompati 4 Angkatan, dan menyisihkan 12 Komjen ketika ia diangkat Kapolri oleh Presiden Jokowi Pada Januari 2021. Ia tercatat Lulusan Akpol Angkatan ’91. Komjen Agung Budi, Irwasum, misalnya, lulusan Akpol '87; Komjen Petrus Golosa, Kepala BNN Angkatan ’88, Komjen Rycko, Kabangitelkam Angkatan 88. dan lain-lain.                  

Dalam teori organisasi diajarkan, memimpin organisasi yang sejumlah staf intinya jelas-jelas lebih senior dari kita, adakalanya menimbulkan hambatan psikologis; atasan suka tidak berani mengeluarkan perintah kepada bawahannya yang dari “segi Angkatan” lebih senior dari Anda. Dalam menangani kasus “Polisi Tembak Polisi” tidak tertutup kemungkinan para jenderal yang lebih senior dari Listyo memberikan tekanan-tekanan terselubung kepada Kapolri karena kepentingan tertentu. Dalam kasus Jenderal Tito, kepada kami, ia cerita memang mengalami faktor-faktor psikologis itu pada awal masa jabatannya. Tapi, karena nama Tito sangat harum Ketika memimpin Pasukan Densus 88, ia pun punya PD yang tinggi, sehingga para seniornya tidak banyak berkutik untuk mengganjal Tito sebagai Kapolri.      

Berita Terkait : Anies Baswedan, Andika Perkasa, Ganjar Pranowo

Oleh sebab itu, seluruh lapisan masyarakat harus mengingatkan dan memberikan semangat kepada Kapolri untuk bertindak professional dan tidak takut membongkar kasus “Polisi Tembak Polisi”  hingga ke akar-akarnya. Nama korpsi Polri harus menjadi taruhan tertinggi. Siapa pun yang memang teribat harus dihukum seberat-beratnya. Arwah Brigadir J tidak boleh ditambah beban lagi dengan pat-gulipat petinggi Polri untuk membongkar kasus ini secara transparan! Keluarga almarhum pun berhak mendapatkan keadilan yang seadil-adilnya. ■