Dewan Pers

Dark/Light Mode

Anies Baswedan, Andika Perkasa, Ganjar Pranowo

Minggu, 19 Juni 2022 07:59 WIB
Prof. Tjipta Lesmana
Prof. Tjipta Lesmana
Anggota Komisi Konstitusi MPR 2004

RM.id  Rakyat Merdeka - Rapat Kerja Nasional Partai NasDem yang berakhir Jumat malam yang baru lalu menghasilkan tiga nama Calon Presiden 2024 yang dibacakan Surya Paloh, Ketua Umum NasDem. Ketiga nama itu berdasarkan pilihan secara musyawarah dan mufakat Pengurus 34 Dewan Pengurus Wilayah (DPW) di seluruh Indonesia.

Raker yang berlangsung 4 hari betul-betul gegap-gempita, dihadiri oleh puluhan ribu kader NasDem. Paloh seolah hendak menunjukkan ke rakyat Indonesia, betapa hebatnya Partai NasDem. Setidak-tidaknya, jangan anggap remeh partai politik yang berusia 11 tahun ini dalam kancah politik, khususnya mendekati Pemilu 2024.

Dari 3 nama itu, Surya Paloh selaku Ketua Umum NasDem akan “peras” lagi menjadi 1 nama saja yang akan bertanding dalam perhelatan politik akbar pada 2024. Kapan Ketum NasDem akan umumkan satu nama tunggal itu? Hanya Paloh yang tahu.

Selaku Ketua Umum, Paloh bahkan dikabarkan memiliki hak prerogatif untuk memveto ketiga nama itu dan menetapkan satu nama lain berdasarkan “dinamika politik” saat itu.

Hal ini mungkin mirip-mirip terjadi ketika Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono menggelar Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat pada Agustus 2013. Cukup banyak politisi yang antusias mengikuti Konvensi itu.

 

Namun, setelah terpilih satu nama definitif, SBY mengumumkan Konvensi batal, karena Demokrat gagal meraih suara di DPR yang memungkinkan partainya mengajukan calon presiden kepada KPU.

Tiga nama “calon presiden” versi NasDem tentu hanya sebagian politisi yang bernafsu sekali untuk jadi Presiden RI dalam Pilpres 2024.

Di luar ketiga nama itu, masih ada nama-nama lain yang sering disebut-sebut oleh lembaga survei dan analisis politik, antara lain Puan Maharani, Prabowo Subianto (Ketua Umum Partai Gerindra), Sandiaga Uno, Airlangga Hartarto (Ketua Umum Partai Golkar), dan Erick Thohir. Presiden Jokowi, meski tidak bisa maju lagi, disebut-sebut king maker bersama Ibu Megawati Soekarnoputri dalam Pilpres 2024.

Berita Terkait : HTI, Khilafah Dan Pancasila

Siapa pun yang mau maju bertarung dalam Pilpres 2024, hampir dipastikan, harus mendapat restu (tidak langsung) dari Jokowi. Pembentukan Koalisi Indonesia Bersatu Mei yang lalu – PAN, PPP dan Partai Golkar – disebut-sebut telah mendapat restu Presiden. Airlangga ketika itu berjanji, KIB dipastikan akan meneruskan program kerja Jokowi, termasuk proyek IKN. Maka, jika kita hendak menganalisis bagaimana peluang ketiga nama calon presiden hasil godokan Pastai NasDem, kedekatan ketiga sosok itu dengan Jokowi tidak bisa diabaikan. Marilah kita analisis secara singkat peluang tiga calon presiden godokan NasDem dalam Pilpres 2024.

Anies Baswedan

Sejak memangku jabatan Gubernur DKI menggantikan Djarot Saiful Hidayat, Anies Badwedan sudah santer disebut-sebut punya peluang cukup besar menggantikan Jokowi sebagai Presiden RI pada Pilpres 2024. Anies, dalam kacamata saya, sosok yang cukup handal, punya leadership yang baik, dan communication skill yang bagus juga.

Sayang, kinerjanya sebagai Gubernur DKI masih minim. Ia dan jajarannya bisa dinilai gagal melakukan normalisasi dan naturalisasi sungai, masalah banjir yang tak kunjung selesai, kemacetan lalu-lintas yang terus menjengkelkan warga Jakarta meski aturan ganjil-genap sudah diperluas ke 36 ruas jalan, dan kriminalitas di Ibukota yang semakin mengerikan.

 

Tapi, titik paling lemah Anies Baswedan –dari kacamata politik, adalah politik identitas yang kental dijalankan oleh Anies, meskipun adakalanya secara samar-samar. Seorang pengamat politik belum lama ini mengatakan Gubernur DKI itu, sebenarnya, sudah punya partai, yaitu PKS.

Beberapa parpol yang masih “mengawang-awang” menyikapi Pilpres 2024, seperti PKB, PKS dan Demokrat dikabarkan sedang berikhtiar membentuk koalisi yang ketiga. Calon presidennya? Boleh jadi Anies Baswedan.

Opsi lain: Anies diminta Prabowo Subianto untuk bergabung dalam Pilpres 2024 jika duet Prabowo-Puan Maharani gagal. Duet ini, tampaknya, akan cukup kuat karena kemampuan mereka untuk menggalang massa yang besar.

Andika Perkasa

Berita Terkait : Antara Subsidi Pertalite Dan Pupuk

Sosok ini termasuk “tokoh ajaib”. Ia baru muncul di panggung politik sejak diangkat Jokowi menjadi Panglima TNI pada November 2021 menggantikan Marsekal TNI Hadi Tjahjanto yang memasuki pensiun dan baru saja dilantik sebagai Menteri ATR. Ketika menjabat KSAD, suara Jenderal Andika jarang terdengar karena tupoksinya terutama menyiapkan prajurit TNI untuk siap dipakai oleh Panglima TNI.

Keunggulan Jenderal Andika: tubuhnya yang sangat macho, wajah yang murah senyum dan sikap tegas yang kerap diperlihatkan kepada publik, khususnya jajaran TNI.

Terhadap prajurit TNI yang cukup bukti melakukan tindak kriminalitas atau pelanggaran etik militer, ia tidak kenal kompromi. Seorang kolonel TNI yang diduga kuat terlibat dalam kasus tewasnya separang pria-wanita dalam kecelakaan lalu-lintas di Kawasan Nangrek, Jawa Barat, ia perintahkan anak-buahnya di Puspom untuk melakukan investigasi tanpa pandang bulu, dan meminta pengadilan menjatuhkan hukuman seberatnya, kalau perlu hukuman mati!

 

Kelemahan Andika: ia minim pengalaman di pemerintahan dan politik; meskipun ia pandai, berpendidikan doktor dan MBA lulusan Amerika. Namun, sosok Andika – menurut hemat kami – sangat dibutuhkan ketika negara kita menghadapi ancaman radikalisme dan terorisme yang semakin memprihatinkan, kelompok-kelompok yang tampaknya bernafsu mengganti Pancasila dengan ideologi lain.

Jenderal Andika takkan pernah ragu “sikat” kelompok-kelompok radikal seperti ini jika mempunyai kerwenangan.

Tentu saja, Andika punya hubungan dekat dengan Presiden Jokowi, karena pernah menjabat Komandan Paspampres yang bertugas pokok menjaga keamanan Presiden dan keluarganya kapan pun, dan di mana pun.

Ganjar Pranowo

Ganjar kaya pengalaman dan pengetahuan di bidang pemerintahan serta politik; karena keanggotaannya selama bertahun-tahun di DPR-RI dan jabatan Gubernur Jawa Tengah hingga dua periode.

Berita Terkait : Mengusir Duta Besar Singapura Dari Indonesia?

Di Jawa Tengah, ia super popular. Menurut survey SMRC belum lama ini, dari 3 “tokoh kuat” Calon Presiden 2024, Ganjar meraih hampir 60%, disusul oleh Prabowo 19,5% dan terakhir Anies Baswedan 13,2%.

Tapi ganjalan besar Ganjar adalah restu Ibu Megawati, karena statusnya sebagai kader PDIP. Dan Ganjar sudah bersuara pula: bahwa ia tidak dapat “izin” dari pimpinan PDIP untuk menyeberang ke parpol lain.

Beranikah Ganjar “nekad” menerima pinangan parpol lain? Atau dia tetap loyal pada PDIP entah sampai kapan pun?

Sayup-sayup terdengar bahwa Jokowi “suka” Ganjar. Ingat pidato Jokowi di depan massa relawan Jokowi belum lama berselang: jangan-jangan calon itu hadir juga di sini. Hadirin pun tertawa keras: bukankah yang dimaksud Jokowi adalah Ganjar Pranowo?

Yang terang, pertandingan politik Pilpres 2024 masih lama. Segala macam dinamika politik masih terbuka; peta politik pun masih berubah-ubah. Lagipula apakah para kandidat benar-benar memahami segudang permasalahan ekonomi, politik dan hukum di negara kita saat ini?

IMF baru saja memperingatkan Pemerintah Jokowi untuk menghentikan “cetak uang” (baca: terbitkan SUN), karena utang kita yang makin besar; dan tahun depan KPU membutuhkan Rp 1 triliun untuk mendanai Pemilu 2024; Dari mana pula dana sekitar 600 triliun untuk membiayai proyek raksasa IKN?

Tarif listrik sudah naik 17%, harga BBM bersubsidi sebentar lagi akan naik juga; tarif BPJS juga akan naik dengn kamuflase “BPJS standar”, BPJS yang non-kelas dan macam-macam permasalahan bangsa lagi.

Apakah sosk-sosok politik yang didaulat jadi calon presiden kita pernah berpikir serius akan segudang permasalahan bangsa dan mencari solusinya? Saya khawatir, mereka tidak pernah berikhtiar. Yang penting, bagaimana memenangkan “pertempuran politik” dengan segala cara!! ■