Dewan Pers

Dark/Light Mode

Sambo, BBM & Politisi Yang Ngebet Nyapres

Senin, 5 September 2022 07:39 WIB
Prof. Tjipta Lesmana
Prof. Tjipta Lesmana

RM.id  Rakyat Merdeka -
Oleh: Prof. Dr. Tjipta Lesmana
Pengamat Sosial-Politik, mantan Dosen Sespim dan Sespati Polri  

Kasus Pembunuhan Brigade Polisi Joshua yang “meledak” pada 8 Juli 2022 dan menyedot perhatian masyarakat luas, terutama media massa dan media sosial seolah meredup setelah acara rekonstruksi pekan lalu. Rekonstruksi itu sendiri menimbulkan sekian banyak tanda-tanya pada kalangan hukum dan media. Banyak kejanggalan muncul pada pengamat dan ahli hukum; sebab banyak muncul “hasil rekonstruksi” yang sebelumnya sama sekali tidak pernah ada dalam narasi skandal ini. Upaya cover-up dari awal hingga rekonstruksi tiada henti-hentinya bermunculan.

Berita Terkait : Jangan Naikkan Harga Pertalite Rp. 10.000!

Misalnya, siapa sesungguhnya yang menembak pertama Joshua: Irjen Sambo atau Bharada E? Menurut Kapolri ketika menyampaikan pernyataan pers yang menetapkan Sambo sebagai tersangka, Sambo penembak pertama. Sebaliknya, Kabareskrim berpendapat ajudan Sambo lebih dulu memuntahkan tembakannya ke arah Joshua. Apakah ada penganiayaan terhadap Joshua sebelum atau setelah penembakan. Kamaruddin, pengacara Joshua yakin ada. Buktinya, otak Joshua bisa “mental” dari kepalanya dan tembus ke mukanya. Tapi, tim forensik otopsi ke-2 menyatakan tidak ada bukti-bukti penganiayaan.

Apa sesungguhnya motivasi Sambo membunuh Joshua? Menko Polhukam Prof. Mahfud sejak awal yakin ada faktor yang tidak pantas dibuka di publik, semacam dugaan perselingkuhan antara Puteri Candrawathi dan Joshua. Soal dugaan pelecehan seks, awalnya sudah ditepis oleh Kapolri, tidak ada, dan dugaan ini sudah dimentahkan dalam berkas yang disusun oleh Bareskrim. Namun, menjelang acara rekonstruksi, justru dugaan pelecehan atau perselingkuhan yang sangat ditonjolkan. Kabarnya, kejadian itu berlangsung di Magelang, dilaksanakan di kediaman Sambo di Jakarta.

Berita Terkait : Bagimu Negeri Lawan Penjahat

Yang mengejutkan, Ketua Komnas HAM yang pertama kali melempar narasi pelecahan seksual ini berdasarkan beberapa foto yang diperoleh Komnas HAM, foto tentang dugaan pelecehan seksual di Magelang. Dari siapa foto tersebut? tidak jelas. Yang lebih “mengerikan” lagi keterangan Komisoner Komisi Nasional (Komnas) Perempuan, Siti Aminah pada 4 Agustus 2022 bahwa pelecehan seksual yang dilakukan Brigadir J terhadap Ibu Putri berbentuk pemerkosaan! Ibu Puteri, kata pimpinan Komnas Perempuan, didapatkan pingsan di depan toilet.
 Selanjutnya