Dewan Pers

Dark/Light Mode

Menghemat Politik Identitas (37)

Menghargai Kepemimpinan Perempuan (2)

Rabu, 21 September 2022 06:30 WIB
Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Kedua hadis di atas terkesan Nabi membatasi perempuan untuk menjadi pemimpin, namun jika disimak dan didalami konteksnya, justru Nabi memberikan peluang kaum perem­puan menjadi pemimpin jika ia mengupayakan kemampuan diri menjalankan fungsi kepemimpinan itu.

Berita Terkait : Menghargai Kepemimpinan Perempuan (1)

Hal ini bisa difahami bahwa Nabi seolah dalam kapa­sitasnya sebagai pengamat politik yang tahu akibat yang akan terjadi manakala kepemimpinan diberikan kepada orang yang tidak siap. Bukan karena perempuan tetapi karena ketidak siapan putri Raja Kisra Persia mengemban amanat berat itu. Apalagi Nabi tahu persis jika musuh be­buyutannya Romawi Byzantium sedang berada di puncak kekuatan saat itu.

Berita Terkait : Menolak Nepotisme

Seandainya Nabi tegas menolak perempuan menjadi pemimpin maka redaksinya mungkin bukan menggunakan kata seperti di dalam hadis di atas. Nabi tahu peran seorang Khadijah di dalam memimpin perusahaannya Ketika ia masih di Mekah. Nabi tidak pernah memberikan pem­batasan kepada isterinya untuk beraktifitas di dunia publik. Nabi bahkan tunduk di bawah inisiatif isterinya untuk men­gendalikan perusahaan yang sekian lama ia geluti.
 Selanjutnya