Dewan Pers

Dark/Light Mode

Menghemat Politik Identitas (44)

Agama dan Negara Saling Mendekorasi

Kamis, 29 September 2022 06:00 WIB
Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Agama dan negara dua sumber nilai yang saling mendekorasi dan memperindah satu sama lain. Bahkan idealnya keduanya diharapkan saling mengontrol satu sama lain. Agama sebaiknya selalu menampilkan fungsi kontrol­nya terhadap negara agar tidak jatuh menjadi negara sekuler atau negara fasisme. Namun negara juga diharapkan meiliki kekuatan control terhadap penerapan ajaran agama agar tidak menjadi negara agama atau munculnya sebuah agama baru yang bisa mengusik keberadaan penganut agama lain yang sudah mapan. Idealnya control antar keduanya sebaiknya terukur dengan mengacu kepada kondisi obyektif bangsa. Jika negara berada dalam control ketat agama maka ketika itu negara subordinasi dari agama dan menjadilah negara itu sebagai negara agama, seperti yang pernah ditampilkan sejumlah negara agama, seperti negara Republik Islam Iran, Pakistan, Afganistan, dan negara-negara lainnya.

Berita Terkait : Mengindonesiakan Pemikiran Keagamaan

Sebaliknya jika negara mengontrol ketat agama maka agama akan menjadi subordinasi kekuatan negara yang diwakili pemerintah. Jika ini terjadi maka dikhawatirkan bisa terjadi dua hal. Pertama, agama dirangkul dan dijadikan kekuatan legitimasi politik oleh penguasa untuk meraih loyalitas dan dukungan politis. Kedua agama dijadikan target atau sasaran kebijakan, dan samasekali tidak diberikan kesempatan untuk memperoleh eksistensi dan pengaruh luas di dalam masyarakat, karena agama dianggap sebagai rival yang juga menuntut loyalitas masyarakat.

Berita Terkait : Menyikapi Komunitas LGBT (4): Pandangan Fuqaha (2)

Ketika sebuah rezim memperalat agama sebagai kekuatan legitimasi untuk mengukuhkan kekuasaan, maka pada saat itu agama akan tampil dengan wajah garang. Ini meng­ingatkan kita ketika paruh pertama rezim orde baru yang mengontrol agama sedemikian kuatnya. Seolah-olah agama, menjadi bagian dari ancaman strategis nasionalisme yang perlu dimata-matai. Berbagai akronim menakutkan ikut mengambil bagian, seperti komando jihad, kelompok fun­damentalis, aliran sesat, NII, dan akronim lainnya. Aktifis agama seringkali diperhadapkan dengan institusi negara yang menakutkan seperti Kopkamtib yang pernah memiliki kewenangan amat luas itu. Yang ideal sebenarnya ialah agama menjadi parner aktif pemerintah di dalam mewu­judkan cita-cita NKRI.
 Selanjutnya