Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Tausiah Politik
Sebelumnya
Radikalisme pasar bebas sebetulnya tidak kalah bahayanya untuk masa depan bangsa. Radikalisme berbasis agama sepertinya lebih dahsyat karena korbannya langsung terlihat berdarah dan mematikan, namun radikalisme pasar bebas tidak kalah bahayanya karena korbannya bisa lebih banyak dari pada radikalisme agama, karena tak terhitung jumlah korban meninggal karena factor kemiskinan yang antara lain disebabkan oleh system pasar bebas yang memberi peluang lebih besar kepada sekolompok masyarakat untuk mengakses pangsa pasar, sementara kelompok masyarakat mayoritas hanya bisa berebutan di sector infermal yang semakin mengecil. Akibatnya, mereka yang tidak memiliki kekuatan dan daya saing terlempar ke pinggiran menunggu saat-saat kehancurannya.
Radikalisme politik dengan berlindung di bawah panji-panji demokrasi dan Hak Asasi Manusia (HAM) juga tidak kalah bahayanya. Dalam era reformasi dewasa ini, bukan rahasia lagi, atas nama demokrasi, keadaban public disingkirkan, atas nama HAM keunikan keunikan nilai-nilai warisan local dan nilai-nilai universal keagamaan dipaksa menyesuaikan diri dengan nilai-nilai HAM tafsiran negara-negara adidaya, atas nama kebebasan beragama syinkretisme dan khurafat dilegalkan, atas nama keterbukaan aib orang lain dibongkar, atas nama otonomi daerah para WNI pendatang dari daerah lain disingkirkan, untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD) lingkungan alam dieksploitasi melampaui ambang batasnya dan pariwisata seksual dilegalkan, untuk merebut kursi jabatan maka uang, dukun, preman, dan berbagai konsesi dijalankan. Membangun istana kerajaan di atas tumpukan penderitaan orang lain bukan jalan Islam. ■
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.