Dark/Light Mode

Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Dalam kehidupan masyarakat selama dekade terakhir ini, liberalisme sering diantitesakan dengan radikalisme. Liberalisme adalah suatu faham yang berusaha memilih kebebasan berperilaku (try to keep a liberal attitude) dengan menonjolkan sikap fair-minded, open-minded dan toleransi. Begitu besar toleransinya sehingga kebatilan dan kekufuran pun sering ditoleransi.
Sementara radikalisme sering diartikan sebagai faham yang anti terhadap kebebasan apalagi kebablasan. Bahkan ada yang mengatakan radikalisme muncul karena semakin luasnya pengaruh liberalisme di masyarakat.
Liberalisme dalam pengertian popular ialah suatu faham mengedepankan kebebasan dan acuannya hanya kepada dasar-dasar Hak Asasi Manusia (HAM) dan HAM pun dibatasi pada humanitarianisme atau dalam bahasa filsafat disebut antroposentrisme.
Antroposntrisme ialah faham serba manusia. Yang bisa memanusiakan manusia ialah manusia itu sendiri. Manusia dalam faham ini tidak membutuhkan kekuatan luar di luar diri manusia seperti Tuhan, Dewa, agama untuk memanusiakan diri manusia. Kebalikan faham ini ialah teosentrisme, yaitu suatu faham yang serba Tuhan.
Liberalisme dalam pengertian di atas sangat membahayakan kehidupan agama dan berbagsa. Islam yang mengenal Tuhan sebagai sumber nilai-nilai kebenaran paling tinggi dan bangsa Indonesia yang menganut faham dan ideologi Pancasila, tentu tidak sejalan dengan faham liberalisme di atas.
Kewajiban manusia untuk menyembah Tuhan dan keharusan warga negara Indonsia menjunjung tinggi nilai-nilai luhur budaya dan agama membuat liberalisme sulit tumbuh di bumi Indonesia.
Namun demikian, liberalisme memiliki banyak “topeng” yang bisa dicermati secara kritis. Boleh jadi seseorang berteriak-teriak anti liberalisme tetapi pada saat bersamaan ia menjadi bagian dari gaya hidup liberalisme. Sebaliknya mungkin ada kelompok mengatasnamakan diri sebagai kelompok liberal tetapi sesungguhnya ia termasuk anti liberalisme.
Seseorang yang muslim sejati dan warga Indonesia sejati rasanya tidak akan pernah mungkin menjadi orang liberalis tulen. Tidak mungkin liberalisme bisa satu atap dengan nilai-nilai luhur agama dan budaya Indonesia.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.