Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Sebelumnya
Dua juta beras impor itu pada akhirnya “nyaris busuk” karena sekian lama tidak dikonsumsi dan hanya disimpan di gudang-gudang milik atau yang disewa oleh Bulog. Beberapa daerah menolak keras beras impor. Meski operasi pasar sudah dilakukan di berbagai daerah, harga beras ketika itu tetap tinggi. Hal itu membuktikan, memang tidak ada kekurangan beras. Tapi kenapa impor beras tetap dilaksanakan juga?!
“Drama impor beras” tampaknya muncul lagi saat ini. Berbeda dengan situasi beberapa tahun yang lalu, saat ini justru Bulog yang berteriak keras untuk segera impor beras.
Wacana impor beras, entah dari mana asal-muasalnya tiba-tiba mencuat di Nusantara. Yang pertama kali menyerukan impor beras justru Bulog. Menurut seorang pejabat Bulog, stok beras di Bulog tinggal 500.000 sampai dengan 600.000 ton, padahal pada saat ini, akhir tahun, Bulog minimal harus punya cadangan 1 juta sampai 1,2 juta ton beras. Maka, situasinya sudah kritis. Solusinya cuma satu: segera impor beras, jangan sampai di pasar terjadi kekurangan beras yang tentu akan berakibat kenaikan harga beras.
Baca juga : Effendy Simbolon Ngomong Apa Lagi?
Soal kecukupan beras di dalam negeri dan impor beras selalu terkait dengan data yang simpang-siur antara beberapa instansi terkait. Hampir berbarengan dengan pernyataan Bulog bahwa stok beras dalam negeri sudah kritis, BPS menyatakan keyakinannya bhwa produksi beras dan stok dalam negeri masih cukup untuk kebutuhan dalam negeri. Begitu juga data dari Kementerian Pertanian.
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Badan Pusat Statistik (BPS) belum lama ini menggelar Survei Cadangan Beras Nasional tahun 2022. Dilaksanakan di 34 provinsi di 490 kecamatan/ kota di Indonesia. Survei itu rupanya membuahkan hasil yang tidak terlalu buram.
Sementara itu, Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso (Buwas), menegaskan impor beras sulit dielakkan. Pihaknya tengah mengupayakan stok beras dari luar negeri akan datang dalam waktu dekat.
Baca juga : Ganjar Capres 2024
“Kami upayakan akhir Desember 2022, ini tinggal hitungan minggu. Sudah jelas kami tidak berhasil mendapatkan stok di dalam negeri (kaum tani) sebanyak 500.000 ton, yang ada hanya 166.000 ton. Maka harus didatangkan minimal 200.000 ton, tapi tidak mudah mendapatkan itu,” kata Buwas usai menghadiri Rapat Kerja (Raker) Komisi IV DPR, Rabu 7 Desember lalu.
Ya, impor beras sepertinya tidak bisa dihindari lagi, bahkan harus segera, karena situasinya sudah SOS. Lupakan saja dengan penghargaan dari International Rice Research Institute (IRRI) yang baru saja diterima Presiden Jokowi karena keberhasilan sistem ketahanan pangan Indonesia dalam hal swasembada beras.
Instansi mana yang pantas disalahkan dalam permasalahan ini?
Baca juga : Runtuh, Benteng Terakhir Penegakan Hukum Indonesia
Seorang Guru Besar Pertanian menuding strategi pemerintah menjaga stabilitas harga beras tidak dirancang secara tepat dan benar. Target stok beras akhir tahun sebanyak 1 juta ton seharusnya dirancang sejak panen pertama dan kedua, yakni antara Februari – Juli, karena setelah itu waktunya stabilisasi di konsumen dengan KPSH (Ketersediaan Pasokan dan Stabilisasi Harga, program utama Bulog) atau Operasi Pasar di seluruh wilayah Indonesia.
Apakah kinerja antara Kementerian Pertanian dan Bulog kurang sinkron? ■
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.