Dark/Light Mode

Rekonsolidasi Strategi Kebudayaan Nasional (6) Subject Matter SKN (4):

Krisis Paradigma Pendidikan Nasional

Minggu, 18 Desember 2022 06:29 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

 Sebelumnya 
Lihatlah kostum kaum milenial kita sudah kehilangan budaya asli kendonesiaannya. Dunia MTV lebih mendomi­nasi pikiran para perancang mode daripada identitas budaya lokalnya. Bahkan atas nama agama (padahal itu mungkin panafsiran lokal terhadap ajaran agama) mengubah gaya hidup berpakaian kita. Sarung sudah digeser oleh baju gamis, kebaya dan kerudung sudah digeser oleh pakaian nuansa georgrafis tertentu, walaupun sesunggguhnya bisa dirancang sebagai sama-sama penutup aurat.

Baca juga : Otonomi Kepemimpinan Nasional

Bahkan, bentuk fisik-biologis pun dibentuk sedemikian rupa untuk menyerupakan diri dengan prototipe etnik bangsa lain. Misalnya, dunia Arab dan Asia Selatan yang genetiknya berjenggot dan berkumis tebal dan Panjang, di antara kita seperti memaksakan diri seperti itu, walaupun kita berasal dari etnik-genetik tang berkumis-jenggot tebal. Jangan lupa, memang ada hadis Nabi yang menganjurkan merawat dan merapikan jenggot, karena apa jadinya jika kelompok etnik itu tidak merapikan dan merawat kumis jenggotnya.

Baca juga : Merumuskan Nasionalisme Indonesia

Bagi kita tidak perlu memaksakan diri untuk berjenggot dan berkumis karena etnik kita seperti apa adanya diberikan Tuhan kepada kita. “Sesunguuhnya Allah tidak melihat kepada pakaian dan penampilan semata tetapi jiwa kalian”, demikian hadis Nabi. Not necessarily to be Arab people for the best muslims. We can still Indonesian but being the best muslim. Bukankah ayat juga mengatakan: Innna akramakum ‘indallahi at-qakum (yang paling mulia di antara kalian ialah yang paling bertaqwa/Q.S. 49:13).

Baca juga : Humanisme Yang Berkeindonesiaan

Kebudayaan bukan hanya dalam bentuk penampilan fisik, tetapi juga pikiran, perasaan, dan kreativitas. Di sinilah pentingnya merumuskan strategi pendidikan yang selanjutnya dapat diimplementasikan ke dalam kurikulum dan satuan pengajaran, bagaimana melahirkan peserta didik bukan hanya berwajah Indonesia, tetapi isi kepala, jiwa, spiritual, dan karakter secara total berkeindonesiaan. Jika tidak, maka masa depan bangsa Indonesia akan kehilangan bentuk. ■ 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.