Dark/Light Mode

Rekonsolidasi Strategi Kebudayaan Nasional (6) Subject Matter SKN (4):

Krisis Paradigma Pendidikan Nasional

Minggu, 18 Desember 2022 06:29 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - ‘Manusia Indonesia’ sebagai subyek dan obyek budaya nasional jelas memerlukan strategi pembinaan dalam arti menentukan filosofi, sistem, dan politik pendidikan nasional yang berencana.

Pendidikan adalah sarana yang sangat fundamental di dalam mewujudkan identitas ‘manusia Indonesia’ yang sejati. Kita tidak bisa meng-copy-paste filo­sofi, sistem, dan politik orang lain atau negara lain, karena kita adalah diri kita sendiri tanpa harus secara kaku menutup nilai-nilai luar yang dianggap relevan untuk diakomodir.

Baca juga : Otonomi Kepemimpinan Nasional

Sehubungan dengan ini, kita sudah saatnya mendefinisikan strategi pendidikan nasional yang berbasis pada realitas ma­nusia dan masyarakat Indonesia. Filosofi, sistem, dan politik pendidikan kita harus mampu memupuk, meng-upgrade kualitas manusia dan masyarakat Indonesia sebagai subyek dan obyek budaya nasional kita.

Strategi pendidikan nasional hendaknya tidak hanya terfokus kepada pengembangan penge­tahuan dan teknologi yang bertumpu pada pemberdayaan ekonomi masyarakat, tanpa memperhatikan identitas ‘manusia Indonesia’ seperti apa yang akan kita lahirkan.

Baca juga : Merumuskan Nasionalisme Indonesia

Identitas budaya nasional dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan sepertinya tidak atau kurang mendapatkan sentuhan perhatian. Lihatlah misalnya karya-karya perada­ban kita sudah kehilangan identitas nasionalnya. Arsitek-arsitek bangunan fisik yang mengisi space Tanah Air kita sudah kehilangan rasa dan citra keindonesiaan.

Lihatlah konsep perumahan dan hunian kita sudah didominasi gaya milenial yang tidak menyisakan perbedaan ruang privat dan ruang publik, sampai kepada pembangunan rumah-rumah ibadah sudah lebih terasa ruang serbaguna, karena nuansa spiritual-religiusnya sudah hilang.

Baca juga : Humanisme Yang Berkeindonesiaan

Komuter transportasi publik dan fasilitas-fasilitas umum sudah kehilangan etika ketimurann. Site-plane perkotaan dirancang sudah sangat sekuler, semua menantang kita untuk hidup ribuan tahun tanpa pernah memunculkan di baris depan sebuah bangunan monumental yang mengingatkan filosofi hidup bahwa ada kehidupan sesudah kematian.

Rumah-rumah ibadah dan kuburan digusur ke belakang untuk digantikan gedung pencakar langit. Akibatnya, moral-spiritual masyarakat kita menjadi kering. Akibatnya lebih lanjut, rasa kompetisi antar kelompok semakin tajam, bahkan tawuran antar warga, padahal mereka semua tidak ada orang lain.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.