Dark/Light Mode

Rekonsolidasi Strategi Kebudayaan Nasional (5) Subject Matter SKN (3):

Otonomi Kepemimpinan Nasional

Sabtu, 17 Desember 2022 06:20 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Di atas kertas, bangsa ini sudah memiliki modal sosial politik yang ideal dengan ditetapkannya Pancasila sebagai falsafah negara dan terbentuknya UUD 1945 sebagai konstitusi ideal bangsa.

Namun, realisasinya kelihatannya masih tetap mencari bentuk yang lebih ideal. Buktinya, konstitusi kita masih mengalami beberapa kali “revisi” dan hingga saat ini masih bertiup kencang usaha kelompok tertentu untuk mengembalikkan UUD 1945 kepada rumusan semula.

Baca juga : Merumuskan Nasionalisme Indonesia

Pola suksesi kepemimpinan nasional dari masa ke masa masih sering dibayangi dengan persoalan-persoalan konseptual yang berporos dari dua kekuatan yaitu, kekuatan “nasionalis obyektif” (untuk tidak menyebut ‘nasionalisme sekuler’ yang hemat saya kurang pas) dan nasionalis religius (Islam).

Di samping itu, pengalaman suksesi kita, terutama suksesi kepemimpinan nasional, masih membutuhkan cost yang amat besar. Bayangkan, untuk tahun 2024 saja, KPU mengajukan anggaran penyelenggaraan Pemilu sebesar Rp 86 triliun.

Baca juga : Humanisme Yang Berkeindonesiaan

Ini dapat dimengerti karena tahun ini tersebut akan diseleng­garakan Pemilu serentak di 33 provinsi dan 508 kabupaten/kota. Itu semuanya lebih baik jika dibandingkan dengan suksesi dalam sejarah Nusantara purba, suksesi kerajaan-kerajaan lokal seringkali diwarnai suksesi yang berdarah.

Kita ingat dalam sejarah suksesi kerajaan Majapahit, kerajaan Sriwijaya, dan kerajaan-kerajaan lain di wilayah Nusantara, selalu diwarnai aliran darah dari rakyat yang tak berdosa.

Baca juga : Pengantar (2)

Gagasan untuk meninggalkan politik identitas yang sering dilontarkan oleh Pak Jokowi dan tokoh-tokoh politik nasional, termasuk imbauan dari kalangan ulama NU. Akan tetapi im­bauan itu bukan sesuatu yang baru.

Presiden SBY dahulu juga pernah menyatakan dengan redaksi yang hampir sama, tetapi dianggap oleh kalangan tertentu dari umat Islam sebagai upaya depolitisasi umat Islam. Hal yang sama juga Habib Riziek menanggapi pelarangan politik identitas akhir-akhir ini sebagai upaya untuk melemahkan kekuatan Islam.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.