Dark/Light Mode

Membaca Ulang Al-Qur’an (3)

Analisis Makna Isyarah

Sabtu, 25 Maret 2023 06:59 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

 Sebelumnya 
Surah kedua, al-Isra', diungkapkan sejumlah ayat yang bisa dikaji secara akal dan sebagian lainnya harus menggu nakan keyakinan, sebagaimana akan diuraikan nanti. Surah ketiga, yakni S. al-Kahfi, banyak diungkapkan hal-hal yang tidak bisa dicerna akal. Di antaranya dikisahkan ada hamba Tuhan yang tertidur (fana') selama 309 tahun (Q.S.al-Kahfi/18:25).

Di dalamnya juga dikisahkan pertemuan dua tokoh yang memiliki perspektif yang berbeda, yakni Nabi Musa yang saat itu masih cenderung menggunakan epistimologi keilmuan logika (knowledge by correspondent) dan Khidhir yang sudah lebih cenderung menggunakan epistimologi keilmuan spiritual (knowledge by present).

Rangkaian surah tiga serangkai ini mengisyaratkan kepada kita bahwa akumulasi ilmu pengetahuan tidak pernah final. Sehebat apapun sebuah produk rasional tidak pernah terbebas dari kepentingan dan suasana subyektif. Itulah sebabnya, kosmologi Islam tidak pernah berhenti di level manusia, tetapi semuanya terpulang kepada Yang Maha Tahu. Allah SWT sudah mengingatkan, jika akalnya sudah mentok maka bertanyalah kepada ahli dzikir (Q.S. al-Anbiya'/21:7).

Urutan penempatan surah-surah tersebut mengisyaratkan adanya sistematisasi di dalam Al-Qur'an. Untuk memahami kedalaman makna surah al-Isra' sebaiknya kita memahami S. al-Nahl. Untuk mendalami S. al-Kahfi sebaiknya terlebih dahulu kita memahami S. al-Isra'.

Baca juga : Antara Al-Qur’an dan Bible

Pertanyaan lain yang sering mengusik pikiran kita kenapa perjalanan spiritual dalam lintasan sejarah Islam hampir semuanya terjadi di malam hari? Kenapa bukan di siang hari? Isra' Mi'raj sebagai perjalanan hori- zontal dari Baitullah, Mekkah ke Masjid Aqsha, Palestina, dan Mi'raj ialah perjalanan vertikal dari Masjid Aqsha ke Sidrat al-Muntaha.

Perjelasan Isra' mungkin masih bisa dijelaskan dengan logika dengan menghubungkannya dengan kendaraan supersonic yang berkekuatan super cepat. Namun, Mi'raj hanya bisa didekati dengan iman.

Mengapa Allah SWT memperjalankan hambanya di malam hari (lailan), bukan di siang hari (naharan). Dalam bahasa Arab kata lailah mempunyai beberapa makna. Ada makna literal berarti malam, lawan dari siang. Ada makna alegoris seperti gelap atau kegelapan, kesunyian, ke- heningan, dan kesyahduan; ada makna anagogis (spiritual) seperti kekhusyukan (khusyu'), kepasrahan (tawakkal), kede- katan (taqarrub) kepada Allah SWT.

Di dalam syair-syair klasik Arab, ungkapan lailah lebih banyak digunakan makna alegoris (majaz) ketimbang makna literalnya, seperti ungkapan syair seorang pengantin baru: Ya lalila thul, ya shubh gif (wahai malam bertambah panjanglah, wahai subuh berhentilah). Kata lailah di dalam bait itu berarti kesyahduan, keindahan,kenikmatan, kehangatan, kesenangan, kerinduan, keakrahun. sebagaimana dirasakan oleh para pengantin baru, yang menye sali pendeknya malam.

Baca juga : Al-Qur’an: Membumi Untuk Melangitkan

Dalam syair-syair sutistik juga lebih banyak menekankan makna magogis kata lailah. Para sufi lebih banyak menghabiskan waktu malamnya untuk mendaki (taraqqi) menuju Tuhan. Mereka berterima kasih kepada lailah malam) yang selalu menemani kesendirian mereka. Perhatikan ungkapan Imam Syafi': Man thalab al-ula syahir al-layali (barangsiapa yang mendamhakan martabat utama banyaklah berjaga di waktu malam). Kata al-layali di sini berarti keakraban dan kerinduan antara hamba dan Tuhannya.

Makna lailah dalam ayat pertama surah al-Isra' menunjukkan makna anagogis, yang lebih menekankan aspek kekuatan spiritual malam (the power of night). Kekuatan emosional- spiritual malam hari yang dialami Rasulullah, dipicu oleh suasana sedih yang sangat mendalam karena sang isteri, Khadi- jah, dan sekaligus pelindung dan penyandang dananya, baru saja pergi untuk selama-lamanya.

Rasulullah memanfaatkan suasana duka di malam hari sebagai kekuatan untuk bermunajat kepada Allah SWT. Kesedihan dan kepasrahan yang begitu memuncak membawa Rasulullah menembus batas-batas spiritual tertentu, bahkan sampai pada jenjang puncak yang bernama Sidratil Muntaha.

Di sanalah Rasulullah diinstol dengan spirit luar biasa sehingga malaikat Jibril sebagai panglima para malaikat tidak sanggup lagi menembus puncak batas spiritual tersebut, karena energinya hanya terbatas sampai batas yang ditentukan. Sedangkan Nabi, saat itu terus melejit ke atas sampai ke puncak yang lebih dikenal dengan Sidrah al-Muntaha, Sebuah tempat yang tidak pernah disentuh oleh siapapun. Di Sidrah al-Muntaha ini.

Baca juga : Penumpang Kapal Bisa Mudik Sekaligus Wisata

Nabi Muhammad SAW membuktikan diri sebagai sosok figur yang istimewa, diberi kesempatan sampai ke puncak. Meskipun sudah tiba di puncak spiritual tetapi Nabi memilih untuk turun kembali ke bumi demi umatnya.

Analisis secara makna isyarai sesungguhnya masih dimung- kinkan dibahas lebih luas dan lebih mendalam dengan melibatkan berbagai disiplin ilmu, tetapi dalam tulisan ini hanya dilibatkan beberapa sudut pendekatan saja.

Dalam analisis makna lathaif, analisis rasional sudah mulai dibatasi oleh analisis yang bersifat spiritual-batiniyah, sebagaimana bisa dilihat di dalam kitab-kitab tafsir isyari. Allahu a'lam. ■

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.