Dark/Light Mode

Membaca Ulang Al-Qur'an (10)

Makna Iqra’ Pertama

Sabtu, 1 April 2023 06:22 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

 Sebelumnya 
Figur Nabi Muhammad menjadi central factor dalam periode ini. Ia mendapatkan direction berupa perpaduan antara ilmu pengetahuan dan agama, yang disimbolkan dalam Iqra’ bi ismi rabbik! (Bacalah dengan membaca nama Tuhanmu). Iqra’ simbol ilmu pengetahuan dan bi ismi rabbik sebagai simbol agama. Iqra’ tanpa bi ismi rabbik atau bi ismi rabbik tanpa Iqra’, terbukti tidak mengangkat martabat manusia dan kemanusiaan.

Periode keempat, diawali dengan melemahnya pusat-pusat kerajaan Islam dan kebangkitan Eropa di abad XIII. Periode ini ditandai dengan kebangkitan hellenisme jilid II di Barat yang begitu cepat. Kedudukan agama pada periode ini mengalami stagnan.

Satu persatu dunia Islam takluk di bawah kekuasaan penjajah Barat. Dunia Barat hanya mengembangkan sains dan teknologi tetapi melupakan agama sebagai pembimbingnya. Inilah mereka, merampas kekayaan intelektual dunia Islam tetapi meninggalkan agama sebagai pembimbingnya.

Baca juga : Rahasia Pengulangan Iqra'

Mereka baru sadar setelah bom Atom meledak di Hirosima dan Nagasaki. Ternyata benar bahwa iqra' tanpa bi ismi Rabbik adalah malapetaka keamanusiaan.

Periode kelima ditandai dengan kejenuhan manusia memuja pikirannya sendiri. Akhirnya muncul berbagai gerakan dan filsafat yang bertema kemanusiaan, seperti gerakan posmodernisme, new age, dan gerakan humanisme lainnya.

Pada akhirnya menurut Prof. Hull, manusia tidak akan pernah mungkin melepaskan diri dari agama. Persoalannya ialah, agama mana yang dapat membimbing ilmu pengetahuan modern? Hipotesa Hull, agama yang tidak sejalan dengan ilmu pengetahuan tidak punya tempat di masa depan.

Baca juga : Memahami Makna Esoterik Al-Qur’an

Prof Hull melihat peluang besar agama Islam untuk menjadi pemandu masyarakat modern karena doktrinnya tidak bertentangan dengan prinsip sains.

Atas dasar kenyataan ini maka Allah SWT menyentak manusia dengan perintah Iqra’ (Bacalah!) dalam ayat pertama. Tidak lama setelah itu disusul sumpah Tuhan pertama dalam Al-Qur’an, yaitu Nun wa al-qalam wama yasthurun (Nun Demi kalam dan apa yang mereka tulis/Q.S. al-Qalam/68:1).

Ayat pertama turun perintah membaca dan sumpah pertama dalam Al-Qur’an ialah Demi Pena dan apa yang mereka tulis. Kedua-duanya menjadi simbol pengembangan ilmu pengetahun. Seolah-olah Allah SWT menyaratkan segala bentuk kemajuan peradaban dan kemanusiaan syaratnya adalah ilmu pengetahuan.

Baca juga : Teomorfisme Al-Qur’an (2)

Namun, dalam Al-Qur’an tidak cukup hanya dengan membaca (how to read) tetapi juga masih ada tingkatan Iqra’ kedua (how to learn or how to think), sebagaimana yang akan dibahas dalam artikel mendatang. ■

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.