Dark/Light Mode

Reaktualisasi Tahun Baru Hijriyah (10)

Hijrah Ibu Kota

Sabtu, 14 September 2019 07:51 WIB
Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Dalam lintasan sejarah dunia Islam, bukan hanya orang atau sekelompok orang yang hijrah, tetapi Ibu Kota pun berkali-kali hijrah dari suatu tempat ke tempat lain.

Hijrah pertama dilakukan Rasulullah SAW dari kota Mekkah. Pusat pemerintahan dan administrasi kepemimpinan diboyong dari Mekkah ke kota Yatsrib yang kemudian diubah Nabi menjadi kota Madinah.

Kota Madinah menjadi ibu kota berlangsung sampai akhir kekhalifahan Ali Ibn Abi Thalib dan awal pemerintahan Mu’awiyah bin Abi Sufyan.

Ketika Mu‘awiyah ibn Abi Sufyan mengambil alih kekuasaan dari ‘Ali, maka pusat pemerintahannya dipindahkan dari kota Madinah ke kota Damaskus, sekarang Syiria.

Kota Damaskus dalam sejarah klasiknya pernah berada di bawah kekuasaan Romawi Bizantium.

Baca juga : Tak Terlalu Jauh Maknai Hijrah (2)

Hukum-hukum dan tradisi yang hidup di dalam masyarakat tersebut masih banyak dipengaruhi oleh hukum-hukum dan tradisi Romawi yang sangat bias gender.

Seorang penguasa di daerah ini masih lumrah memiliki harem-harem atau gundit. Hakhak politik dan hak-hak publik perempuan masih sangat ketinggalan dibanding dengan hak-hak yang diperoleh perempuan di kota Nabi di Madinah.

Bahkan dalam mitologi Yunani, perempuan seolah-olah dianggap sebagai makhluk setengah manusia, tidak boleh mendekati rumah ibadah, dan dianggap sebagai makhluk yang terkutuk.

Salah satu obyek perhatian Mu‘awiyah di Damaskus ialah menerima pengaduan dari kaum perempuan yang merasa hak-haknya tidak pernah diindahkan.

Bahkan para pelanjut dinasti Mu’awiyah semakin dilanda banyak problem kemasyarakatan.

Baca juga : Tak Terlalu Jauh Maknai Hijrah (1)

Ditambah lagi tidak adanya kaderisasi yang mumpuni, Akhirnya kerajaan Mu’awiyah dengan mudah dikalahkan oleh dinasti Abbasiyah.

Ketika Bani Abbas mengambil alih kekuasaan dari Bani Mu‘awiyah, maka pusat kerajaan atau ibu kota politik dunia Islam diboyong ke kota Bagdad.

Kota ini bersebelahan dengan Ktesipon, yang pernah menjadi basis pertahanan kerajaan Persia. Bagdad sendiri pernah menjadi wilayah kerajaan Persia.

Hukum dan tradisi yang hidup (living law) di kota Bagdad masih banyak dipengaruhi oleh tradisi Persia yang juga sangat bias gender.

Dominasi laki-laki di dalam masyarakat tercermin dengan pemberian otonomi kepada laki-laki. Tradisi harem yang dulu sudah mulai tidak populer di Madinah seolah-olah menjadi bagian tak terpisahkan dengan kerajaan Abbasiah.

Baca juga : Dari Islam Arab ke Islam Nusantara

Ibn Azm melaporkan bahwa di antara semua khalifah Bani Abbasiah, hanya tiga khalifah yang merupakan putra seorang wanita merdeka (Hurriyah), bahkan di antara dinasti Umayyah di Andalusia tidak seorang pun berasal dari perempuan merdeka.

Sehubungan dengan inilah, Leila Ahmed menyatakan bahwa tradisi Bizantium dan Sasania memberikan pengaruh penting dalam sejarah tradisi Islam.

Bani Abbasiah yang selalu dilanda perang saudara juga tidak bisa bertahan lebih lama, akhirnya wilayah-wilayah kekuasaannya diambil alih oleh pasukan-pasukan sekutu dalam Perang Salib.***

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.