Dark/Light Mode

Hasil Rekapitulasi KPU
Pemilu Presiden 2024
Anies & Muhaimin
24,9%
40.971.906 suara
24,9%
40.971.906 suara
Anies & Muhaimin
Prabowo & Gibran
58,6%
96.214.691 suara
58,6%
96.214.691 suara
Prabowo & Gibran
Ganjar & Mahfud
16,5%
27.040.878 suara
16,5%
27.040.878 suara
Ganjar & Mahfud
Sumber: KPU

Menggagas Fikih Siyasah Indonesia (63)

Membaca Fenomena Deterritorialisasi Umat Islam

Rabu, 2 Agustus 2023 06:10 WIB
Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Fikih siyasah modern harus membaca fenomena perkembangan dunia Islam yang cenderung sudah stateless, negara tanpa batas sebagai akibat detrritorialisasi umat Islam.

Migrasi dan mobilisasi umat Islam secara besar-besaran ke negara-negara maju seperti di Eropa dan Amerika menurut Murad W. Hofmann, mantan Direktur Informasi NATO, dalam bukunya “Religion on the Rise, Islam in the Third Millennium”, akan memberikan dampak hegemoni sosial-politik, mengingat Islam adalah sistem ajaran komprehensif yang menuntut loyalitas kepada penganutnya.

Baca juga : Upaya Memperpanjang Ajal Rezim

Di negara-negara barat ini, lahir generasi kedua mereka yang tetap beragama Islam (the western-born and the second-generation muslim).

Dari manapun dan di manapun komunitas Islam itu berada selalu menciptakan lingkungan sosial unik karena Mereka memiliki simbol-simbol perekat (melting pot) berupa mesjid, halal food, pendidikan dasar keagamaan untuk anak-anak mereka, dan majlis taklim untuk para orang tua. Dari satu sisi, keterikatannya dengan negara asal sangat kuat karena tokoh-tokoh keagamaan kharismatik dari negerinya tetap dijalin. Bahkan secara periodik tokoh spiritual itu didatangkan ke negeri baru ini untuk memberikan pencerahan.

Baca juga : Berkomunikasi Dengan Bahasa Santun

Pada sisi lain, generasi kedua muslim ini dituntut oleh negeri baru ini untuk memberikan loyalitas penuh sebagaimana halnya warga lainnya yang lahir di negeri tersebut.

Di sinilah kerumitannya, karena satu sisi secara emosional dan spiritual warga muslim masih tetap terikat dengan negeri asal tetapi secara hukum ketatanegaraan setempat mengharuskan mereka untuk sepenuhnya loyal kepada negaranya.

Baca juga : Mengedepankan Dialog Dan Musyawarah

Kenyataan umat Islam di negera “kedua” ini membayar pajaknya kepada Negara di mana mereka berdomisili, tetapi zakat harta mereka dikembalikan ke negeri asalnya, bahkan sebagian di antara mereka masih menyerahkan binatang kurban dan kambing ‘aqikah ke negerinya. Sebagian juga masih membangun rumah di negeri asal termasuk dana yang dikumpulkan diinvestasikan ke negeri asalnya.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.