Dark/Light Mode

Quick Count by Litbang Kompas
Anies & Muhaimin
25.23%
Anies & Muhaimin
Prabowo & Gibran
58.47%
Prabowo & Gibran
Ganjar & Mahfud
16.30%
Ganjar & Mahfud
Waktu Update 20/02/2024, 00:17 WIB | Data Masuk 100%

Menggagas Fikih Siyasah Indonesia (73)

Fikih Siyasah Kebhinnekaan (4)

Minggu, 13 Agustus 2023 06:15 WIB
Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Jiwa yang pluralis ialah jiwa yang memiliki kemampuan untuk memahami dan sekaligus memberikan toleransi terhadap nilai-nilai pluralitas yang hidup di lingkungan sekitarnya.

Nilai-nilai pluralitas ialah sekumpulan kelompok nilai atau sub-kultur yang diikat oleh suatu kekuatan  nilai lebih tinggi yang memungkinkan masing-masing kelompok dan subkultur itu menyatu di dalam suatu wadah kebersamaan.

Baca juga : Fikih Siyasah Kebhinnekaan (3)

Berbeda dengan nilai-nilai heterogenitas yang biasa difahami sebagai sekumpulan kelompok nilai atau sub-kultur yang berdiri sendiri tanpa diikat oleh satu kesatuan nilai yang lebih tinggi. 

Nilai-nilai kemajmukan Indonesia lebih tepat disebut sebagai nilai-nilai plural ketimbang nilai-nilai heterogen, karena meskipun terdiri atas berbagai suku, etnik, bahasa, dan agama namun tetap merupakan satu kesatuan geokultural dan ideologis sebagaimana tercermin di dalam motto “Bhinneka Tunggal Ika”, bercerai-berai tetapi tetap satu.

Baca juga : Fikih Siyasah Kebhinnekaan (2)

Segenap warga bangsa Indonesia bersepakat utnuk menghimpunkan diri di dalam satu wadah kesatuan yang disebut dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Oleh karena itu, nilai pluralism Indonesia lebih dekat kepada jiwa segenap warga bangsa Indonesia.

Pluralisme Indonesia difahami sebagai sebuah konsep kesatuan yang tersusun dari berbagai unsur keberagaman. Keberagamannya diikat oleh sebuah kesatuan yang kokoh, melalui persamaan sejarah sebagai penghuni gugusan bangsa yang pernah dijajah selama berabad-abad oleh bangsa lain, dalam hal ini Belanda dan Jepang.

Baca juga : Fikih Siyasah Kebhinnekaan (1)

Kehadiran kolonialisme, setuju atau tidak, telah memberikan andil yang penting untuk menyatukan bangsa Indonesia, sebagai sesame warga bangsa yang mengalami nasib penderitaan yang sama.

Di samping persamaan sejarah, pluralisme Indonesia juga diikat oleh kondisi obyektif bangsa Indonesia sebagai suatu negara bangsa yang menjunjung tinggi azas kebersamaan, baik kondisi obyektif maupun kondisi subyektif. Kesatuan kebangsaan ini juga biasa diistilahkan dengan nasionalisme Indonesia.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.