Dark/Light Mode

Hasil Rekapitulasi KPU
Pemilu Presiden 2024
Anies & Muhaimin
24,9%
40.971.906 suara
24,9%
40.971.906 suara
Anies & Muhaimin
Prabowo & Gibran
58,6%
96.214.691 suara
58,6%
96.214.691 suara
Prabowo & Gibran
Ganjar & Mahfud
16,5%
27.040.878 suara
16,5%
27.040.878 suara
Ganjar & Mahfud
Sumber: KPU

Menggagas Fikih Siyasah Indonesia (68)

Mewaspadai Ketika Agama Menjadi Legitimasi Politik

Senin, 7 Agustus 2023 05:58 WIB
Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Prof. L.W.H.Hull dalam ­History and Philosophy of ­Science, pernah mencatat ­bahwa pada permulaan abad ke-4 di Eropa, para ­penguasa bertindak untuk dan atas nama Tuhan melalui gereja, meme­gang otoritas hampir tak ter­batas di dalam masyarakat.

Otoritas ­kebenaran sepertinya tidak boleh ada di luar gereja yang dikuasai para kaisar. Agama betul-betul menjadi stempel untuk membenarkan seluruh tindakan kaisar se­hingga masyarakat tidak berdaya untuk menolak gagasan raja, karena penolakan bisa berarti malapetaka.

Bukan saja dunia ilmu penge­tahuan menga­lami degradasi, tetapi dunia kemanusiaan pun menga­lami kemunduran. Ini terjadi karena persekongkolan antara raja dan gereja sebagai pemegang otoritas  kekuasaan.

Baca juga : Tidak Menghilangkan Daya Jihad Agama

Sejarah seringkali berulang. Ketika sang penguasa memegang kendali agama dan digunakan sebagai kekuatan ekstra untuk melegitimasi kekuasaan, maka di situ akan terjadi bencana kemanusiaan yang mengerikan.

Betapa tidak, manusia akan dipaksa tunduk di bawah otoritas ­penguasa. Siapapun yang berusaha ­membangkang dari otoritas itu bisa berarti malapetaka ­bagi­nya.

Peristiwa yang menimpa ­Galileo yang harus menjadi tumbal dari kekejaman raja sering dijadikan contoh akan bahayanya jika agama menjadi stempel legitimasi penguasa.

Baca juga : Tidak Boleh Menghilangkan Fungsi Kritis Agama

Agama dan negara bisa ­saling mengontrol satu sama lain. Ketika agama dalam kontrol agama maka ketika itu negara subordinasi dari kekuatan agama seperti yang pernah ditampilkan sejumlah negara agama, seperti negara republik Islam Iran, Pakistan, Afganistan, dan negara-­negara lainnya.

Sebaliknya, ketika negara mengontrol agama ­maka agama akan menjadi subordinasi kekuatan negara yang diwakili pemerintah. Yang terakhir ini bisa terjadi dua macam hal.

Pertama, agama dirangkul dan dijadikan kekuatan legitimasi oleh ­penguasa untuk meraih loyalitas dan dukungan.

Baca juga : Menyeimbangkan Emosi Jihad Dan Emosi Patriotisme

Kedua, agama dijadikan target atau sasaran kebijakan, dan samasekali tidak diberikan kesempatan untuk memperoleh eksistensi dan pengaruh luas di dalam masyarakat, karena agama dianggap sebagai rival yang juga menuntut loyalitas masyarakat.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.