Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Prof. Dr. Ermaya Suradinata
Sebelumnya
Dengan KTT 43 ASEAN berlangsung dan diintensifkan selama pandemi Covid-19 ini, maka geostrategi baru pun terbentuk di Asia Tenggara. Tambahan pula Asia Tenggara telah lama menjadi salah satu wilayah yang paling penting dalam politik dan ekonomi global. Terletak di persimpangan antara Samudra Hindia dan Pasifik, wilayah ini telah menjadi pusat perhatian banyak negara besar karena nilai strategisnya yang tinggi.
Namun, beberapa tahun terakhir telah tersaksikan pula munculnya geostrategi baru di Asia Tenggara, ditandai dengan kontestasi kekuatan yang semakin meningkat antara negara-negara besar seperti Amerika Serikat, China, dan Rusia. Di mana Amerika Serikat telah lama memiliki kehadiran militer dan kepentingan ekonomi di kawasan ini, tetapi China telah tumbuh menjadi aktor utama dengan investasi besar-besaran dan klaim wilayah maritim yang diperdebatkan. Sementara itu, Rusia juga telah meningkatkan kehadiran militer di Asia Tenggara sebagai bagian dari strategi globalnya.
Baca juga : Geopolitik Demokrasi Kata Hati: Menyerap Ideologi Pancasila
Jelaslah kontestasi tersebut menciptakan ketegangan dan ketidakpastian di wilayah ini. Maka klaim maritim yang bersaing di Laut Cina Selatan menjadi fokus utama dalam geostrategi baru ini. Beberapa negara, termasuk China, Vietnam, Filipina, Malaysia, dan Brunei, memiliki klaim wilayah yang tumpang tindih di perairan ini. Sengketa ini telah menciptakan ketegangan yang berkelanjutan, dan memicu perlombaan persenjataan di kawasan ini. Upaya untuk menyelesaikan sengketa ini melalui dialog regional belum sepenuhnya berhasil, dan masalah ini tetap menjadi titik ketegangan.
Di tengah semua tantangan ini, masih ada peluang untuk kerjasama regional yang lebih erat di Asia Tenggara. ASEAN telah berusaha menjaga stabilitas dan perdamaian di kawasan ini –antara lain melalui dialog dan kerjasama ekonomi. Selain itu, inisiatif seperti Belt and Road Initiative (BRI) China dapat pula membawa manfaat ekonomi yang signifikan jika dikelola dengan bijak. Kontestasi kekuatan, klaim maritim yang bersaing, dan masalah ekonomi semuanya mempengaruhi stabilitas dan perkembangan di Asia Tenggara.
Baca juga : Momentum Geopolitik KTT Ke 43 ASEAN
Peluang kerjasama regional masih tetap ada untuk mengatasi sejumlah tantangan tersebut. Maka dalam jangka panjang, penting bagi negara-negara di kawasan ini untuk bekerja sama dengan negara-negara besar dan membangun solusi bersama untuk mendorong perdamaian, keamanan, dan kemakmuran di Asia Tenggara.
Maka KTT Ke 43 ASEAN di Jakarta ini menjadi momentum kebangkitan Republik Indonesia yang semakin berusia 78 menuju negara maju di era Endemi Covid-19 ini.
Baca juga : Geopolitik BRICS Peluang Indonesia Maju
Prof. Dr. Ermaya Suradinata, SH, MH, MS, adalah mantan Dirjen Sospol Depdagri RI, Rektor IPDN, dan mantan Gubernur Lemhannas RI.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya