Dark/Light Mode

Perang Ideologi Dalam Era Globalisasi

Rabu, 27 September 2023 07:19 WIB
Prof. Dr. Ermaya Suradinata
Prof. Dr. Ermaya Suradinata

 Sebelumnya 
Maka salah satu konsep utama dalam pandangan Bung Karno adalah Gerakan Non-Blok, tidak bisa lekang dan lapuk oleh zaman. Di mana Bung Karno bersama dengan tokoh-tokoh seperti Jawaharlal Nehru dari India dan Josip Broz Tito dari Yugoslavia, mendirikan Gerakan Non-Blok pada Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada tahun 1955. Konferensi ini juga momentum penting dalam sejarah diplomasi dunia ketika negara-negara Asia dan Afrika berkumpul untuk membahas isu-isu global, termasuk perang ideologi.

Dalam momentum tersebut, Bung Karno berseru terhadap pemahaman betapa pentingnya persatuan dan solidaritas di antara negara-negara Asia dan Afrika yang baru merdeka. Sang Proklamator Republik Indonesia ini menekankan pentingnya tidak terlibat dalam Perang Dingin antara Blok Barat dan Blok Timur, serta menegaskan kemandirian dan ketidakberpihakan sebagai prinsip yang harus dipegang teguh.

Dari sana semakin benderang pula bahwa Bung Karno adalah seorang nasionalis yang gigih. Selain menanamkan untuk Indo­nesia, ia juga mempromosikan gagasan bahwa bangsa-bangsa Asia-Afrika harus merdeka dan berdaulat atas tanah airnya sendiri. Pandangan nasionalis ini menjadi salah satu pijakan utama dalam ideologi Pancasila. Demikian juga manakala Bung Karno menekankan pentingnya kemandirian dalam mengelola sumber daya dan mengambil keputusan sebagai bangsa –ini tercermin dalam Pancasila yang mempromosikan kedaulatan dan kemandirian rakyat.

Baca juga : Etika Pemerintahan, Geopolitik Menuju Pemilu 2024

Maka pemikiran ideologi Bung Karno, dalam konteks ideologi Pancasila, telah menjadi landasan ideologis bagi negara Indonesia dan memainkan peran penting dalam pembentukan karakter negara dan masyarakat Indonesia. Ideologi ini menggarisbawahi prinsip-prinsip dasar yang dipegang oleh bangsa Indonesia, dan bukan utopia untuk menjadi panduan dalam menghadapi berbagai tantangan dalam sejarah masa kini.

Dengan begitu ideologi Pancasila menjadi seperangkat prinsip dasar yang menggambarkan nilai-nilai yang dipegang teguh oleh negara Indonesia, seperti kemerdekaan, kedaulatan rakyat, keadilan sosial, demokrasi, dan ketuhanan yang maha esa. Lantas bukanlah utopia manakala Bung Karno melihat Pancasila sebagai pandangan dunia yang inklusif, yang bisa menyatukan berbagai kelompok masyarakat yang beragam dalam satu ke­satuan negara.

Orientasi itu terkait pula ­dengan visi negarawan. Visi Negarawan adalah konsep yang menggambarkan pandangan dunia suatu negara, diimplementasikan dalam kebijakan luar negeri, dengan prinsip-prinsip seperti kedaulatan nasional, non-intervensi, dan ketidakberpihakan dalam konflik internasional. Visi ini bertujuan untuk mempromosikan perdamaian, keadilan, dan stabilitas dalam hubungan internasional.

Baca juga : Bhinneka Tunggal Ika: Semboyan Dunia Dalam Kerangka Ideologi Pancasila

Hal tersebut juga untuk mendukung solidaritas internasional, diplomasi, dan penghormatan terhadap hukum internasional. Maka visi Negarawan relevan dalam menghadapi globalisasi karena membantu negara-­negara untuk mempertahankan kedaulatan ekonomi dan melin­dungi kepentingan nasional di tengah arus globalisasi ekonomi, serta untuk menghindari konflik ideologi dan aliansi militer yang dapat mengancam kedaulatan.

Seruan Bung Karno ini sangat relevan dalam konteks perang ideologi, karena Bung Karno secara tegas menolak campur tangan asing dalam urusan dalam negeri negara-negara merdeka. Serta ia mendukung prinsip ketidakberpihakan. Pidato tersebut menjadi dasar untuk pendirian Gerakan Non-Blok, yang bertujuan untuk mempromosikan perdamaian dan kerjasama internasional di luar blok-blok besar.

Kini semakin jelaslah bahwa globalisasi dan perang ideologi adalah fakta yang tidak dapat dipisahkan dalam dunia saat ini. Di mana globalisasi mempengaruhi cara perang ideologi berkembang dan menyebar, sementara perang ideologi tetap menjadi faktor penting dalam kompetisi dan diplomasi internasional.

Baca juga : Membaca Geopolitik dan Geostrategi Jakarta

Prof. Dr. Ermaya Suradinata, SH, MH, MS, adalah mantan Gubernur Lemhannas RI.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.