Dark/Light Mode

Quick Count by Litbang Kompas
Anies & Muhaimin
25.23%
Anies & Muhaimin
Prabowo & Gibran
58.47%
Prabowo & Gibran
Ganjar & Mahfud
16.30%
Ganjar & Mahfud
Waktu Update 20/02/2024, 00:17 WIB | Data Masuk 100%

Teologi Lingkungan Hidup (15)

Asal Usul Alam Semesta: Panteisme

Sabtu, 30 September 2023 06:10 WIB
Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Kata “alam” berasal dari bahasa Arab dari akar ­kata ­‘alima-ya’lam ber­arti mengetahui, kemudian membentuk kata ‘alam ber­arti “tanda” (sign). Dari akar kata tersebut lahir kata ‘ulama bentuk jama’ dari ‘alim berarti ulama yakni ilmuan.

Seakar kata juga dengan alamat yakni tempat tinggal (address). Alam ialah segala sesuatu selain Allah (kullu ma siwa Allah/other than God).

Baca juga : Mengenal Alam Mitsal (2)

Asal-usul alam semesta ­(universe, nature) terdapat ­ber­bagai pandangan. Di antaranya kaum filosof berpendapat alam semesta ini terjadi dengan sendiri­nya (creatio ex nihilo).

Filosof lainnya mengkritisi pendapat ini dengan menga­takan bagaimana ada sesuatu tanpa ada yang mengada­kannya. Kaum ­agamawan menyebutnya Sang Prima­kausa adalah ­Tuhan, yang menjadi pencipta segala ­makhluk. Menge­nai apa dan siapa Tuhan itu terdapat perbedaan pendapat para pemikir.

Baca juga : Mengenal Alam Mitsal (1)

Sekelompok pemikir dari kalangan Panteisme (Yunani: Pan=banyak, theos=Tuhan) adalah sebuah faham yang mempercayai banyak Tuhan, bahkan semuanya, segala sesuatu dipandang sebagi Tuhan.

Dengan demikian, pandangan Panteisme tidak mengakui pandangan dualitas yang membedakan antara Pencipta (Khaliq) dan makhluk (makhluq), Tuhan (Rabb) dan hamba (marbub), karena yang tampil sebagai Tuhan itu juga sesungguhnya tampil sebagai apa yang disebut orang dengan makhluk.

Baca juga : Mengenal Alam Jabarut

Panteisme memperkenalkan faham yang secara logika lebih simpel dan mudah difahami ketimbang menggambarkan Tuhan sebagai Transenden atau inmanen dari diri manusia dan atau alam semesta. Segala se­suatu, seperti alam raya dengan segala isinya, tidak perlu di­bedakan dengan Tuhan, karena semuanya itu adalah pancaran atau emanasi (emanations) ­Tuhan. Ibaratnya air dalam  ember itu tumpah dan semua tumpahannya disebut air, meskipun tidak lagi seperti bentuknya semula di dalam ember. Dia yang tumpah dan tumpahannya menjadi alam semesta dengan ber­bagai entitasnya.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.