Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Teologi Lingkungan Hidup (83)
Fenomena New Consciousness di Baat (1)
Tausiah Politik
Sebelumnya
Masyarakat adat tradisional juga menggambarkan Tuhan bukan bersemayam di langit, jauh dari alam semesta, tetapi Tuhan intrinsic di dalam diri setiap alam. Mereka menganggap setiap entitas alam semesta di sana ada Dia. Ia tampil dalam bentuk energi sehingga Tuhan menurut mereka mirip denga napa yang digambarkan oleh Thomas Aquinas (1225-1274) di dalam “Summa Theologiae”-nya, bahwa Tuhan tidak berada di dalam suatu istana yang jauh tetapi hadir di mana-mana. Tuhan bukan suatu wujud tetapi lebih merupakan “wujud itu sendiri” (Esse Seipsum). Ini mirip pendapat Ibn ‘Arabi: Dia ada di mana-mana, masuk ke dalam segala sesuatu tetapi tidak bercampur dan keluar dari segala sesuatu tetapi tidak terpisah. Gak mirip juga dengan faham Pantheisme yang menganggap alam semesta ini sebagai pancaran (emanasi) Tuhan. Dengan demikian alam ini tidak lain alah Sang Tuhan dan karena itu alam ini adalah sacral. Serupa pula dengan agama Hindu yang menganggap alam ini sebagai perwujudan Atma (Impersonal God).
Baca juga : Antropokosmisme vs Antroposentrisme
Berbeda dengan Masyarakat adat tradisional, Barat modern dengan filsafat humanism-antroposentrisnya, mengangap alam semesta ini sebagai obyek yang dapat dieksploitasi sedemikian rupa untuk kepentingan umat manusia. Mereka juga merasa diback-up oleh agama Kristen yang dalam Bibel Adam dperintah untuk menaklukkan bumi. Francis Bacon (1561-1626) dan sebelumnya filsuf Perancis John Duns Scotus (1265-1308), ditambah dengan pemikir sekuler Barat lainnya, mereka mengembangkan pemikiran yang bercorak antroposentris, membuat alam semesta ini semakin “menderita” karena diperlakukan hanya semata-mata sebagai obyek. Alam semesta bukan lagi sebuah teofani, penyingkap sang Ilahi, tetapi dijadikan komoditas yang dapat diekploitasi sedemikian rupa.
Baca juga : Menggagas Antropokosmisme
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak edisi Kamis, 14 Desember 2023 dengan judul "Teologi Lingkungan Hidup (83), Fenomena New Consciousness di Baat (1)"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.