Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Prof. Dr. Ermaya Suradinata
Sebelumnya
Geostrategi Indonesia yang mencakup peran penting dalam ekonomi global dan diplomasi regional membuatnya menjadi sasaran yang menarik bagi pihak yang ingin mengganggu stabilitas kawasan. Serangan terhadap infrastruktur digital, termasuk Pusat Data Nasional (PDN), tidak hanya menimbulkan kerugian ekonomi dan operasional, tetapi juga dapat digunakan sebagai alat untuk mempengaruhi dinamika politik dan keamanan di Asia Tenggara.
Oleh karena itu, pertahanan siber bukan hanya masalah nasional tetapi juga menjadi prioritas dalam kerangka keamanan regional yang lebih luas. Dalam konteks kerjasama internasional, serangan terhadap infrastruktur digital Indonesia memiliki implikasi yang jauh lebih luas. Kerentanan terhadap serangan siber dapat mengurangi kepercayaan antarnegara dan menghambat upaya bersama untuk mengatasi ancaman keamanan cyber secara global.
Baca juga : Relevansi Lembaga Manajemen Pemerintahan di Era Prabowo-Gibran
Upaya kolaboratif dalam pertukaran intelijen cyber dan pengembangan teknologi keamanan cyber menjadi semakin penting untuk melindungi infrastruktur kritis dan memperkuat ketahanan siber regional. Pemerintah Indonesia juga harus mengadopsi strategi yang komprehensif dalam menghadapi ancaman keamanan siber yang semakin kompleks ini.
Hal ini termasuk memperkuat kerangka regulasi yang efektif, meningkatkan kapasitas pertahanan siber, serta membangun kesadaran dan keterampilan dalam masyarakat untuk menghadapi serangan cyber. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya melindungi kepentingan nasional tetapi juga berperan aktif dalam menjaga stabilitas regional dan kerjasama internasional dalam bidang keamanan siber.
Baca juga : Geopolitik Pemerintahan Daerah Dalam Pembangunan NKRI
Berdasarkan analisis terhadap serangan terhadap infrastruktur digital Indonesia dari perspektif geostrategi dan implikasinya terhadap keamanan regional serta kerjasama internasional dalam keamanan siber, dapat disimpulkan bahwa tantangan ini memerlukan respons yang komprehensif dan terkoordinasi.
Indonesia, sebagai negara dengan peran penting dalam geopolitik regional dan global, harus meningkatkan kapasitas dalam pertahanan siber, memperkuat kerangka regulasi yang efektif, dan menggalakkan kerjasama internasional dalam menghadapi ancaman serangan cyber yang semakin kompleks. Bersamaan pula kesadaran akan pentingnya keamanan cyber perlu ditingkatkan di semua lini, termasuk dalam masyarakat sipil, sektor bisnis, dan pemerintahan.
Baca juga : SIM Keliling Jakarta Rabu 19 Juni, Hadir Di 5 Lokasi
Edukasi mengenai praktik keamanan digital serta investasi dalam teknologi keamanan cyber menjadi krusial dalam membangun ketahanan siber yang kokoh. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya dapat melindungi kepentingan nasional dan regional, tetapi juga memainkan peran yang proaktif dalam menjaga stabilitas dan keamanan dalam konteks geopolitik yang semakin terhubung secara digital.
Prof. Dr. Ermaya Suradinata, SH, MH, MS, adalah Gubernur Lemhannas RI (2001-2005) dan Direktur Jenderal Sosial Politik Depdagri RI (1998-2000). Kini menjabat Ketua Dewan Pembina Center for Geopolitics & Geostrategy Studies Indonesia (CGSI), Ketua TIM Dewan Pakar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) RI.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya