Dark/Light Mode
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Suku Tolotang terdapat di bagian selatan Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap). Tolotang dari akar kata To artinya orang dan Lotang artinya selatan. Disebut Tolotang karena komunitas ini tinggal di Sidenreng di wilayah Amparita dan menyebut diri sebagai To Lotang. Mereka tinggal di sebelah selatan pasar Sidenreng, memisahkan diri dari komunitas muslim mayoritas di wilayah itu.
Komunitas Tolotang memiliki sejarah panjang. Tetapi intinya mereka berasal dari wilayah Wajo yang sekarang menjadi Kabupaten Wajo. Pada awal abad ke-17 Wajo mengalami proses islamisasi besar-besaran setelah ditaklukan oleh raja Gowa, Sultan Alauddin.
Di bawah kepemimpinan raja La Sangkuru Arung Matoa, Wajo secara resmi masuk agama Islam. Dalam masyarakat tradisional, apa kata raja, itu kata rakyat. Raja mengeluarkan maklumat agar seluruh warga kerajaan Wajo mengikuti agama Islam. Maka, sebagian besar penduduk mematuhi maklumat raja tetapi sebagian kecil dari masyarakat yang tinggal di wilayah Wani tidak mau mengikuti perintah itu. Akhirnya mereka hijrah ke ke Sidenreng dan dalam versi lain mengatakan mereka terdesak ke Sidenreng setelah melakukan perlawanan terhadap pasukan Raja.
Di daerah Sidenreng, mereka membuat perjanjian dengan raja ke-7 Sidenreng, La Pattiroi, yang disebut ada’ mappura onrona Sidenreng. Inti perjanjian ini antara lain, adat harus dihormati, keputusan harus ditaati, janji harus ditepati, keputusan yang telah ada harus dilanjutkan, dan agama harus ditegakkan.
Dalam bagian lain perjanjian itu, komunitas Tolotang wajib melakukan ritual pemakaman dan pernikahan secara Islam.
Baca juga : Buhun Orang Kranggan
Ketika raja menerapkan kebijakan memaksakan dua ritual yang harus diikuti masyarakat Tolotang itu, selama bertahun-tahun mereka menaati perjanjian tersebut. Namun sejak pada masa pendudukan Jepang, komunitas muslim mulai menolak pemakaman anggota komunitas Tolotang.
Hal ini membuat komunitas Tolotang merasa tersingkirkan. Akhirnya orang-orang Tolotang menjalankan pemakaman sendiri sesuai dengan tradisinya.
Dalam perjalanannya, komunitas ini semakin terpinggirkan oleh masyarakat, bahkan dalam masa DI/ TII, orang-orang Tolotang sering menjadi sasaran tembak. Suatu ketika orang-orang Tolotang di desa Otting dibantai sehingga sebagian di antaranya lari ke Amparita. Di daerah ini komunitas Tolotang bergabung dengan TNI melalui Pasukan Sukarela demi memberantas DI/TII. Semenjak itu komunitas Tolotang semakin berhadap-hadapan dengan umat Islam.
Semula komunitas Tolotang masih menggunakan identitas Islam tetapi belakangan mereka mendaftarkan diri sebagai salah satu sekte agama Hindu. Pengakuan tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Beragama Hindu Bali dan Budha No 2 Tahun 1966, tertanggal 6 Oktober 1966. Surat Keputusan tersebut disempurnakan dengan SK No 6 Tahun 66, tertanggal 16 Desember 1966.
Inti agama atau kepercayaan Tolotang antara lain bertumpu pada lima keyakinan, yaitu:
Baca juga : Aliran Kebatinan Perjalanan
1) Percaya adanya Dewata SeuwaE (Tuhan YME).
2) Percaya adanya hari kiamat.
3) Percaya adanya hari kemudian.
4) Percaya adanya penerima wahyu dari Tuhan.
5) Percaya kepada Lontara sebagai kitab suci.
Baca juga : Menggetarkan Hati Dengan Al-Qur’an
Penyembahan Tolotang kepada Dewata SeuwaE berupa penyembahan kepada batu-batuan, sumur dan kuburan leluhur.
Keunikan kepercayaan ini dapat dilihat dari berbagai bentuk upacara ritualnya yang berbeda dengan ajaran Islam. Di antaranya bisa kita lihat pada puncak upacara berupa ziarah ke Makam I Paqbere di Desa Perrinyameng, Kelurahan Amparita, Kabupaten Sidrap.
Para penganut kepercayaan Tolotang berkumpul dan duduk di atas rumput di bawah rindangnya pepohonan dengan penuh ketenangan dan rasa khidmat. Mereka mengikuti upacara ritual yang dipimpin oleh para Uwaq, sebuah istilah yang lazim diberikan kepada seorang atau sosok figur yang berwibawa.
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 8, edisi Sabtu, 28 Desember 2024 dengan judul "Beragama Dalam Keberagaman (44) Agama Tolotang"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.