Dark/Light Mode

Keteladanan Ki Ageng Pandanaran

Selasa, 30 Desember 2025 08:04 WIB
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
Dalang Wayang Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Banjir bandang yang menerjang wilayah Sumatera harus dimaknai sebagai refleksi spiritual hubungan manusia dengan Sang Pencipta dan manusia dengan alam. Di sisi lain, peristiwa ini sebagai momen perbaikan diri, mencegah keserakahan dan kepedulian terhadap sesama manusia. Bagaimana cara kita mawas diri dan bermuhasabah dalam mencegah kerusakan alam?

“Meneladani perilaku Ki Ageng Pandanaran, Mo?" celetuk Pertruk serius. Romo Semar mesem tidak serta merta mau menanggapi komentar Petruk. Semar sedang galau dengan cuaca ekstrem jelang akhir tahun. Banjir bandang dan tanah longsor masih mengintai di berbagai wilayah Nusantara. Gelombang air laut tinggi menyebabkan rob di daerah pesisir.

Baca juga : Berharap Kepada Bandung Bondowongso

Seperti biasa Romo Semar mengawali paginya dengan secangkir kopi pahit. Suasana dingin akibat guyuran hujan semalam masih terasa. Nasi goreng buatan Ibu Kanestren dibiarkan dingin di atas meja makan. Romo Semar kurang bernafsu untuk merahapi sarapan nasi goreng buatan sang istri. Kepulan asap rokok klobot membawa ingatannya ke zaman Madya. Di mana, transformasi perilaku Ki Ageng Pandanaran dalam mendekatkan diri kepada alam dan Sang Pencipta.

Kocap kacarito, Ki Ageng Pandanaran merupakan Bupati pertama Semarang. Diangkat sebagai bupati oleh Sultan Demak untuk memimpin wilayah “ asem arang “ atau pohon asem jarang yang kemudian dikenal sebagai kota Semarang. Nama aslinya adalah Raden Kusen, putra dari Sunan Muria. Ki Ageng Pandanaran masih keturanan Trah Majapahit dan Demak.

Baca juga : Semar Mitigasi Bencana Amarta

Ki Ageng Pandanaran berasal dari keluarga bangsawan yang disegani pada masanya. Hidup dalam kemewahan dan bergelimang harta. Sehingga lupa akan tugas sebagai seorang pemimpin. Perilaku hedon menyebabkan dirinya lebih mementingkan kehidupan duniawi dibandingkan perilaku spiritual. Sunan Kalijaga prihatin melihat perilaku menyimpang Ki Ageng Pandanaran. Sebagai seorang pemimpin tidak semestinya terikat dengan duniawi dan melupakan kewajiban spiritualnya. Sunan Kalijaga datang menyamar sebagai pengemis untuk menguji sampai di mana kedermawanan Bupati Pertama Semarang tersebut. Ki Ageng Pandanaran kaget melihat yang datang menyamar sebagai pengemis adalah Sunan Kalijaga. Pandanaran bersujud dan merasa malu telah khilaf selama ini. Sunan Kalijaga memberikan nasihat mendalam kepada Ki Ageng Pandanaran tentang pentingnya meninggalkan kemewahan dunia dan mendekatkan diri kepada Sang Khalik.

Selain mendapat wejangan spiritual, Ki Ageng pandanaran mendapat ilmu kanuragan dan kesaktian dari Sunan Kalijaga. Seperti bagaimana mengusir air bah yang setiap tahun menerjang wilayah pesisir Semarang. Ki Ageng Pandanaran legowo menanggalkan jabatannya sebagai seorang bupati. Ki Ageng memilih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta sambil melakukan dakwah ke daerah Bayat yaitu sekitar wilayah Klaten. Ki Ageng Pandanaran sampai wafat di daerah Bayat dan dikenal sebagai Sultan Bayat.

Baca juga : Kearifan Membaca Tanda-Tanda Alam

“Lalu hubungannya apa dengan maraknya bencana alam yang terjadi, Mo?" sela Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. “Keserakahan manusia sebagai pemicu terjadinya bencana," jawab Romo Semar pendek. "Selain itu kurang harmonisnya hubungan manusia dengan alam dan Sang Pencipta memperparah terjadinya bencana alam," papar Romo Semar sambil ngeloyor pergi. Oye

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.