Dark/Light Mode

Catatan Nakal Tentang Khilafah (3)

Semangat Sejatinya Sudah Tersimpul Dalam Pancasila

Selasa, 9 April 2019 07:30 WIB
SHAMSI ALI
SHAMSI ALI
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Karenanya, jangan terkejut. Bangsa Indonesia sesungguhnya justeru bisa memahami konsep Khilafah dalam konteks “Indonesia” yang berdasar Pancasila.

Karenanya dalam menyikapi isu khilafah hendaknya dihindari penafsiran ekstrim ini. Dalam konteks negara Indonesia, asal saja konsisten dengan semangat “founding fathers” yang tertuang dalam falsafah dan dasar negara, sejatinya secara substantif sudah sejalan dengan khilafah.

Khilafah itu terbangun di atas Kalimah Tauhid dan bercita-cita mewujudkan masyarakat yang makmur dan berkeadilan. Semangat ini sejatinya sudah tersimpulkan dalam sila-sila Pancasila.

Baca juga : Perlindungan Penuh Kepada Minoritas

Lalu bagaimana dengan konsep pemerintahan khilafah global? Jawabannya adalah konsep global itu lebih kepada ikatan emosional yang tertuang dalam konsep wihdatul ummah (one community) dan ukhuwah Islamiyah.

Bahwa umat Islam itu secara semangat adalah satu umat dan persaudaraan. Kesatuan umat dan ukhuwah Islamiyah itu tak akan terputuskan oleh sekadar batas-batas kebangsaan.

Maka, tidak perlulah ketakutan yang berlebihan dengan kata khilafah. Apalagi kata ini dijadikan bahan gorengan politik. Yang akhirnya hanya akan semakin memperlebar polarisasi di masyarakat kita.

Baca juga : Belajar Memahami Dengan Akal Sehat Dan Mata Imbang

Mungkin saatnya dipahami, bahwa bagi bangsa Indonesia yang beragama Islam, pemahaman tentang khilafah itu tidak kepada dari konteks keindonesian. Yaitu Negara yang berdasar Pancasila dan UUD 45.

Dan keduanya dalam keyakinan umat Islam Indonesia terinspirasi oleh Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW. Maka kalaupun ada anak-anak bangsa yang mengagumi kata “khilafah”, hendaknya jangan mudah dituduh sebagai anti Pancasila dan NKRI.

Karena sekali lagi negara Indonesia adalah khilafah bagi umat Islam Indonesia. Ingat, kita sedang berada dalam ancaman ekstremisme di dua arah. Ekstrimisme kanan yang diwakili oleh ISIS di dunia Islam dan ekstrimisme kiri yang diwakili oleh White Supremacy di dunia Barat.

Baca juga : Komitmen Keagamaan Dan Keindonesiaan

Saatnya, kita menempuh jalan tengah dalam merespon isu-isu yang dihadapi oleh dunia kita. Semoga! [Habis]

Imam Shamsi Ali : Santri para ulama, Presiden Nusantara Foundation, Imam Islamic Center New York, Direktur Jamaica Muslim Center New York, Pendiri Pondok Pesantren Di AS, dan Diaspora Indonesia di Kota New York.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.