Dark/Light Mode

Tumpulnya Nurani Duryudana

Senin, 25 Oktober 2021 06:33 WIB
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
Dalang Wayang Politik

 Sebelumnya 
Prabu Kresna sebagai duta Pandawa datang seorang diri ke Hastina diikuti empat perwakilan dewa. Keempat dewa tersebut yakni Dewa Narada, Rama, Parasu, dan Janaka. Dengan hadirnya para dewa diharapkan dapat memperlancar negosiasi antara Kresna dan Duryudana.

Baca juga : Berdirinya Padepokan Sokalimo

Pada awalnya, Duryudana legowo bersedia mengembalikan separuh kerajaan Hastina dan Amarta. Keputusan Duryudana tersebut membuat gembira para dewa yang hadir sebagai saksi perundingan. Namun, setelah para dewa kembali ke Khayangan, Prabu Duryudano ingkar janji dengan apa yang sudah diputuskan. Duryudono tetap pada pendiriannya semula, yakni kembalinya Kerajaan Hastina dan Amarta harus melalui perang Baratayuda. Yaitu perang saudara antara Kurawa dan Pandawa.

Baca juga : Resesi Pascapandemi

Prabu Kresna marah kepada Duryudana karena sebagai raja tidak bowo leksono antara yang diucapkan dan perbuatan tidak sama. Kresna tiwikrama mengubah wujudnya menjadi raksasa sebesar gunung yang siap menghancurkan bumi Hastina. Duryudana lari menyelamatkan diri melihat raksasa jelmaan Kresna ngamuk punggung.

Baca juga : Patung dan James Bond

“Untung para dewa turun melerai amarah Kresna, Mo,” sela Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. “Betul, Tole. Tiwikrama merupakan simbol kemarahan rakyat melihat kezaliman Duryudana. Jika suara-suara nyaring di luar kekuasaan tidak mau didengar, maka ada baiknya mendengarkan suara nurani kita sendiri. Karena detakan kencang nurani tidak pernah berbohong,” ucap Semar. Oye

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.