Dark/Light Mode

Quick Count by Litbang Kompas
Anies & Muhaimin
25.23%
Anies & Muhaimin
Prabowo & Gibran
58.47%
Prabowo & Gibran
Ganjar & Mahfud
16.30%
Ganjar & Mahfud
Waktu Update 20/02/2024, 00:17 WIB | Data Masuk 100%

Jangan Seenaknya!

Interaksi Di Dunia Digital Perlu Implementasi Nilai Pancasila

Selasa, 26 Juli 2022 16:17 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.

RM.id  Rakyat Merdeka - Setiap orang bebas melakukan interaksi apapun di dunia digital. Tapi wajib diingat bahwa di Indonesia ada norma yang berlaku. Dalam melakukan interaksi di dunia maya nilai Pancasila perlu diimplementasikan.

Hal tersebut dibahas dalam webinar bertema Menjadi Pemuda Berkarakter Pancasila di Era Digital. Webinar ini digelar di Makassar, Sulawesi Selatan.

Narasumber dalam webinar tersebut adalah Jawara Internet Sehat Provinsi Sulawesi Utara Arthur Mandolang, Kaprodi S1 Public Relations Universitas Kristen Satya Wacana Rini Darmastuti dan Jurnalis sekaligus Relawan MAFINDO Erviana Hasan.

Baca juga : Tingkatkan Kesejahteraan, Mardani Dukung Pemekaran Tasikmalaya

Dalam webinar tersebut, Arthur Mandolang menerangkan bahwa di Indonesia setidaknya terdapat 202,6 juta pengguna internet yang aktif dengan 345,3 jutanya sudah menggunakan ponsel pintar. Dari jumlah itu, sebanyak 61,8 persen merupakan pengguna aktif di media sosial.

Namun sayangnya, dunia internet saat ini semakin dipenuhi konten negatif seperti berita bohong, ujaran kebencian, sampai praktik-praktik penipuan. Ini menunjukkan, nilai Pancasila tidak diterapkan dalam aktivitas dunia digital.

Ia pun membagikan tiga tips bagaimana mempraktekkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. "Pertama, jangan fokus menghafal namun mari mulai fokus memaknai dan menghayati Pancasila," katanya dikutip Selasa (26/7).

Baca juga : Kementerian ATR Bangun Digital Contact Centre Pengaduan Tanah

Kedua, ia mengajak untuk memulai mengimplementasikan di kehidupan sehari-hari. Bisa dimulai dari hal-hal sederhana.

"Ketiga, setelah menghayati dan mengimplementasikannya, kita harus mengevaluasi mengenai kapan kita harus menggunakan Pancasila dan kapan tidak,” jelasnya.

Terkait etika digital, Rini Darmastuti membuka sesinya dengan memberikan pengertian mengenai generasi milenial. Menurutnya, generasi milenial adalah sekelompok orang yang lahir setelah generasi X, sekitar 1980 hingga 2000-an.

Baca juga : Polusi Jakarta Ancam Kesehatan Warga

Generasi milenial memiliki beberapa karakteristik unik yang berbeda dari generasi lainnya, mulai dari ambisi yang kuat, sikap individualisme yang cukup tinggi, terbuka akan perubahan, hingga ketergantungan terhadap teknologi.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.