Dewan Pers

Dark/Light Mode

Indonesia Waspada Diabetes Sebagai Silent Killer

Selasa, 10 Nopember 2020 16:54 WIB
Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) Ketut Suastika (di layar besar) saat diskusi virtual/Foto: Merry Apriyani
Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) Ketut Suastika (di layar besar) saat diskusi virtual/Foto: Merry Apriyani

RM.id  Rakyat Merdeka - Hingga 14 Mei 2020, International Diabetes Federation (IDF) melaporkan 463 juta orang dewasa di dunia menyandang diabetes dengan prevalensi global mencapai 9,3 persen. 

Kondisi yang membahayakan adalah 50,1 persen penyandang diabetes (diabetesi) tidak terdiagnosis. Hal tersebut menjadikan diabetes sebagai silent killer yang masih menghantui dunia. Bahkan, 75 persen pasien diabetes pada tahun 2020 berusia 20-64 tahun.

Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) Ketut Suastika mengatakan, berdasarkan data IDF, Indonesia berstatus waspada diabetes karena menempati urutan ke-7 dari sepuluh negara dengan jumlah pasien diabetes tertinggi.

“Yakni 10.681.400 orang per tahun 2020 dengan prevalensi 6,2 persen. Dengan data tahun ini, 1 dari 25 penduduk Indonesia atau 10 persen dari penduduk Indonesia mengalami diabetes,” jelas Ketut.

Menurutnya, yang paling banyak di Indonesia adalah kasus diabetes tipe 2 yang disebabkan oleh gaya hidup tidak sehat. 

Berita Terkait : Pending Lagi Sampai Tahun Depan

“Kalau melihat angka yang sangat besar, artinya setiap orang memiliki kerabat, teman, atau bahkan keluarga yang mengalami penyakit diabetes,” imbuhnya.

Menurut Executive Committee Member IDF Western Pacific Region (2009-2011 dan 2012-2015) Sidartawan Soegondo, kenaikan jumlah diabetes tipe 2 ini didorong oleh kondisi saling mempengaruhi yang kompleks antara pertumbuhan sosio-ekonomi, demografis, lingkungan dan faktor genetis.

Kontributor utama lainnya termasuk arus urbanisasi, populasi penduduk yang menua, berkurangnya aktivitas fisik di tengah masyarakat urban dan meningkatnya obesitas serta kelebihan berat badan.

“Keluarga, perantara efektif dan mudah untuk melaksanakan upaya kesehatan. Upaya yang dapat dilakukan keluarga diabetesi, antara lain melakukan perencanaan makan, perencanaan olahraga, pengaturan obat dan edukasi,” jelas Sidartawan.

Menurut dia, hal yang masih perlu ditingkatkan adalah upaya keluarga dalam mengatur pola makan sehat dan gizi seimbang, serta ajakan berolahraga. Hasil penelitian terkait dukungan keluarga yang positif, mengarah pada kontrol gula darah yang lebih baik.

Berita Terkait : Kunjungan Di Indonesia Dipadatin Sehari, Pompeo Terbang Ke Vietnam

Maka dari itu, menurut dia, gejala klasik diabetes yang bisa diagnosa dari awal adalah banyak minum, banyak kencing, juga diikuti berat badan yang turun drastis. 

Bagi diabetesi, penting untuk mengecek kadar gula darah secara rutin dan melakukan pencegahan, terlebih saat pandemi.

“Diabetes adalah salah satu komorbid atau penyakit penyerta yang banyak ditemukan pada pasien Corona, tepatnya di peringkat kedua yaitu 34,4 persen kasus di Indonesia,” ungkap Sidartawan.

Dalam rangka Hari Diabetes Dunia atau World Diabetes Day (WDD) 2020 pada 14 November 2020, Diabetasol kembali mengadakan serangkaian aktivitas dengan tema kampanye “Bersama Diabetasol, Sayangi Dia”. 

Kegiatan ini mengajak semua pihak mulai dari tenaga medis, keluarga, sahabat dan kerabat berperan aktif dalam memberikan dukungan bagi diabetesi.

Berita Terkait : Libur Panjang, Anies Minta Waspadai Klaster Keluarga

“Terutama kondisi diabetesi saat ini yang sangat berisiko tinggi di saat pandemi. Dengan menjaga gula darah, dapat membantu menurunkan risiko diabetesi terkena komplikasi Covid-19,” ujar Director of Special Needs & Healthy Lifestyle Nutrition Kalbe Nutritionals Tunghadi Indra.

Menurut dia, diabetes memang tidak bisa disembuhkan, tetapi manajemennya sangat perlu diperhatikan. Selain itu, dukungan dari sistem di sekitar diabetesi juga sangat dibutuhkan. [MER]