Dark/Light Mode

2 x Lebaran Tanpa Keluarga Di Australia

Ahli Epidemiologi Dicky Budiman: Alhamdulillah, Tahun Ini Saya Sudah Bisa Tarawih Dan Itikaf

Kamis, 13 Mei 2021 15:30 WIB
Ahli Epidemiologi Griffith University Australia, Dicky Budiman (Foto: Dok. Pribadi)
Ahli Epidemiologi Griffith University Australia, Dicky Budiman (Foto: Dok. Pribadi)

 Sebelumnya 
Masyarakatnya mau, karena strategi pemerintah terbukti efektif. Sehingga, kepercayaan masyarakat selaras, sejalan, dan sebangun dengan semakin baiknya performa pandemi yang dilakukan pemerintah.

"Alhamdulillah, sekarang nggak ada kasus. Ramadan tahun ini, saya sudah bisa tarawih. Sudah bisa itikaf. Shalat di masjid juga sudah dempetan. Tapi tetap, ketika tidak sholat, protokol kesehatan ketat dijalankan," ujar Dicky.

Baca Juga : Dubes Jepang Ucapin Selamat Lebaran Untuk Muslim Indonesia

Untuk sholat Jumat, jemaah harus register sebelum hari H. Dalam registrasi tersebut dijelaskan, jemaah harus wudhu dari rumah, bawa peralatan shalat sendiri, tidak boleh memberikan makanan dan minuman untuk orang lain, wajib pakai masker, waktu dan toilet dibatasi. Kapasitasnya 2 meter persegi per orang.

Bagaimana dengan takbiran, ada nggak sih tradisi takbiran di negeri Kanguru? 

Baca Juga : Beberapa Komandan Hamas Gugur Syahid Dalam Agresi Israel

"Takbiran ada. Waktunya hanya dibatasi 1 jam. Silaturahmi dianjurkan virtual. Satu rumah bisa menerima 5-10 orang, karena situasi pandeminya sudah relatif aman. Tapi karena tidak ada keluarga di sini, saya gabung dengan komunitas muslim Indonesia di Australia untuk merayakan Lebaran. Dengan keluarga, saya video call dengan anak, istri, dan orangtua," papar Dicky.

"Tapi tetap, sebaik apa pun pengendalian pandemi di sini, saya tetap ingin kembali ke Indonesia. Namun, berhubung saya masih memiliki keterikatan dengan universitas, saya tetap di sini dan berusaha untuk berkontribusi dalam penanganan pandemi," papar Dicky.

Baca Juga : Silaturahmi Virtual Dengan Wapres, Jokowi Cerita Lebaran Tanpa Anak-anak

"Semua harus berbesar hati menghadapi situasi ini. Semua orang sebetulnya terdampak. Apakah itu di Australia yang penanganan pandeminya relatif terkendali, atau di Indonesia. Kita semua harus mampu berempati dan berperan, untuk segera keluar dari situasi pandemi," pungkasnya. [SAR]