Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Ekonomi Keluarga Sulit Akibat Pandemi
Kasian, Puluhan Balita Di Jakpus Kurang Gizi
Sabtu, 11 Juni 2022 07:30 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Puluhan balita di enam Rukun Warga (RW) di Kelurahan Kartini, Jakarta Pusat, mengalami stunting atau gangguan pertumbuhan akibat kurang gizi. Kelurahan setempat kini tengah menanganinya agar mereka bisa hidup sehat.
Lurah Kartini, Ati Mediana menjelaskan, salah satu penyebab adanya penderita stunting di wilayahnya karena orangtua balita mengalami kesulitan ekonomi akibat pandemi Covid-19.
“Awalnya ada 36 balita (stunting), saat ini sudah menurun menjadi 26 balita,” kata Ati saat dikonfirmasi, di Jakarta, kemarin.
Menurut Ati, saat ini kondisi balita yang mengalami stunting sudah membaik. Karena, Posyandu dan Puskesmas melakukan pemeriksaan rutin, memberi makanan yang sehat seperti biskuit, vitamin dan sayuran.
Baca juga : Puluhan Balita Di Sawah Besar Jakpus Alami Gizi Buruk
“Tujuan kegiatan Posyandu untuk memberikan tambahan gizi. Insya Allah bisa jadi zero case (tidak ada penderita stunting),” harap Ati. Selain faktor ekonomi, lanjutnya, balita mengalami stunting disebabkan faktor genetik dan pola makan yang buruk.
Ati mengimbau orangtua memperhatikan kondisi gizi balita. Jika balita mengalami ciri-ciri gizi buruk, segera meminta bantuan Puskesmas agar mendapatkan asupan makanan.
Kepala Puskesmas Kelurahan Kartini, Iga Ariwati memastikan, pihaknya menggelar pos pelayanan terpadu untuk ibu hamil.
Menurut Iga, program posyandu dapat mendeteksi dini status kekurangan gizi pada balita. Selain itu, pihaknya memberikan edukasi kepada ibu hamil agar menjaga kesehatan kandungannya.
Baca juga : Perwakilan Keluarga: Kami Berprasangka Baik, Allah Lebih Mencintai Almarhum Eril
“Setelah melahirkan, kami juga mengedukasi bagaimana memberikan air susu ibu (ASI) eksklusif dan pengetahuan menyajikan makanan yang sehat. Kemudian, kalau ada kelainan pada balita, kami merujuk ke dokter sesuai bidangnya,” tuturnya.
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta, Hardiyanto Kenneth prihatin dengan masih ditemukannya balita menderita gizi buruk. Menurut dia, jika Camat dan Lurah bekerja dengan maksimal, kasus itu bisa diantisipasi sehingga tidak ada kasus balita mengalami gizi buruk.
Karena tugas pokok dan fungsi (tupoksi) cegah dini dan deteksi dini Ancaman, Tantangan, Hambatan, dan Gangguan (ATHG) serta menjadi katalisator program Pemerintah Daerah, melekat di badan organisasi Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW).
“Tugas Camat dan Lurah yang harus mengontrol serta memaksimalkan peran RT dan RW. Karena, RT dan RW pasti mempunyai data yang valid tentang kondisi di wilayah masing masing,” ucapnya.
Baca juga : Sabtu Ini KIB Gelar Silatnas, Penentuan Capres Dilakukan Setelahnya
Menurutnya, kasus gizi buruk yang berkepanjangan di Jakarta sangat mengenaskan. Sebab, dengan memiliki Anggaran Belanja dan Pendapatan Daerah (APBD) lebih dari Rp 80 triliun, seharusnya kasus itu tidak terjadi di Ibu Kota. ■
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya