Dark/Light Mode

Pemprov Please Kasih Edukasi

Nyebelin... Pengunjung Tebet Eco Park Tak Tertib

Sabtu, 24 Desember 2022 07:30 WIB
Dua pengunjung melompati pagar yang mengelilingi Tebet Eco Park, di kawasan Tebet Barat Raya, Jakarta, Sabtu (17/12). Pemasangan pagar sepanjang 1.700 meter yang rencananya mengelilingi Tebet Eco Park, sebagai upaya untuk membatasi jumlah pengunjung demi menjaga agar 
tetap nyaman dan teratur. (Foto: Tedy Kroen/RM)
Dua pengunjung melompati pagar yang mengelilingi Tebet Eco Park, di kawasan Tebet Barat Raya, Jakarta, Sabtu (17/12). Pemasangan pagar sepanjang 1.700 meter yang rencananya mengelilingi Tebet Eco Park, sebagai upaya untuk membatasi jumlah pengunjung demi menjaga agar tetap nyaman dan teratur. (Foto: Tedy Kroen/RM)

 Sebelumnya 
Masih rendahnya kesadaran masyarakat selama ini, kata August, mengakibatkan banyak fasilitas taman rusak. Untuk itu, pemagaran dianggap sebuah keputusan tepat.

Pemagaran ini, lanjut dia, untuk meminimalisir potensi tindak kejahatan, terutama di malam hari. Dengan dipagari, TEP tidak dapat dimasuki sembarangan orang.

“Selain itu untuk mempermudah dan menghemat pemasangan CCTV,” tandasnya.

Baca juga : Kemenperin Maksimalkan Penggunaan Produk Dalam Negeri

Direktur Eksekutif Pusat Studi Perkotaan Nirwono Yoga menilai, sejak awal desain TEP menjadi taman terbuka kurang tepat. Penyebabnya, taman ini dirancang dengan fasilitas yang lengkap dan mahal. Fasilitas bermain anak di TEP, banyak diimpor dari luar negeri.

“Sehingga fasilitas memerlukan perlindungan. Caranya dengan melakukan pembatasan pengunjung dan memagari agar taman dan fasilitas tidak cepat rusak,” kata Nirwono kepada Rakyat Merdeka.

Dengan pemagaran, lanjut Nirwono, pintu keluar-masuk taman menjadi terbatas. Selain itu, pengunjung dan jam operasional bisa dibatasi.

Baca juga : Erick Patok SGN Kuasai 70% Pasar Gula Nasional

Perubahan desain TEP ini, diingatkan Nirwono, harus menjadi pelajaran Pemprov DKI, dalam hal ini Dinas Pertamanan dan Hutan Kota, agar melakukan kajian matang dan mendalam sebelum membangun taman.

“Rancanglah taman sesuai kebutuhan. Baik lokasinya, target pengunjung, fasilitas yang dibutuhkan dan biaya pemeliharaannya,” saran Nirwono.

Dukungan pemagaran TEP juga dilontarkan sejumlah warganet. “Pagar sengnya kapan dihilangkan? Biar bagus pemandangannya. Seng sudah penyok hampir roboh semua. Kasihan yang jalan juga. Jadi bahaya. Takut tiba-tiba jatuh kena pengguna jalan,” tulis @hiangga.

Baca juga : Pameran Kriyanusa Kenalkan Teknik Eco Dye Pada Tekstil

“Semoga jadi makin oke dan pengunjung menikmati suasana taman yang sesungguhnya. Semangat berbenah,” kata @elitaakbar7. “Semoga bisa lebih terjaga dan terkondisikan ya min, biar awet,” sahut @muchlaselba.

“Mohon disediakan petugas yang berjaga di spot-spot tertentu di dalam pak. Kesadaran masyarakat yang berkunjung masih terlalu rendah. Kalau tidak ada petugas yang siap mengedukasi masyarakat di dalam, umur fasilitas di dalamnya ga akan bertahan lama,” pinta @anggayin01.

“Ayo dong bapak/ibu petugas @tebetecopark pengawasan dan edukasi buat pengunjung diperketat lagi. Sayang banget loh infrastruktur yang sudah dibangun kalau nggak dirawat dengan baik. Banyak pengunjung yang buang sampah sembarangan dan merusak mainan yang ada, dengan main nggak sesuai umur dan kapasitas. Berurusan sama warga +62 emang harus ketat dan disiplin, biar fasilitas yang ada bisa tahan lama,” saran @deasyrahina06. ■

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.