Dark/Light Mode

Masuki Musim Kemarau Panjang

Polusi Di Jakarta Rawan Naik Lagi

Selasa, 7 Mei 2024 06:50 WIB
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) DKI Jakarta Asep Kuswanto. (Foto: Berita Jakarta)
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) DKI Jakarta Asep Kuswanto. (Foto: Berita Jakarta)

 Sebelumnya 
Waspada Dehidrasi

Selain penurunan kualitas udara, musim panas juga dapat mengganggu kesehatan.

Praktisi Kesehatan Ngabila Salama mengimbau masyarakat untuk menghindari dehidrasi atau kehausan.

“Minum air putih tanpa menunggu haus. Tiga sampai empat liter per hari atau 12-16 gelas. Cara mudahnya satu gelas se­belum dan sesudah shalat dan satu sampai dua gelas sesudah makan, sehingga tercapai 13-16 gelas per hari,” kata Ngabila.

Kepala Seksi Pelayanan Me­dik Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Taman Sari ini juga mengimbau, jangan minum teh dan kopi karena akan membuat sering kencing dan dehidrasi.

Baca juga : Paris Saint-Germain Vs Borussia Dortmund, Bawa Misi Kebangkitan

“Apalagi jika dengan gula akan lebih berbahaya,” ingatnya.

Jika banyak berkeringat dan merasa lemas, dia menyarankan minum oralit.

“Makan sayur dan buah yang banyak mengandung air seperti semangka, melon, pir, apel, dan lain-lain,” sebutnya.

Untuk mencegah kulit kering dan kemerahan, Ngabila me­nyarankan menyemprot wajah. Dan bagi warga yang berakti­vitas di luar ruangan, baiknya menggunakan payung atau topi berdaun lebar. Selain itu, gunakan kacamata hitam, pelembab kulit dan masker medis untuk menjaga kelembaban saluran napas, baju berwarna cerah untuk meman­tulkan cahaya dan alas kaki untuk mencegah luka/melepuh.

Sebagai informasi, BMKG menyebut, 63,66 persen wilayah di Indonesia sudah mengalami musim kemarau dari Mei hingga Agustus 2024.

Baca juga : Lawan Sakit, Rublev Jawara

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, cuaca panas yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini bukanlah akibat gelombang panas atau heat wave.

“Di Indonesia yang terjadi bukanlah gelombang panas, me­lainkan suhu panas seperti pada umumnya,” kata Dwikorita di Jakarta, Senin (6/5/2024).

Dijelaskan Dwikorita, cuaca panas di Indonesia akibat peri­ode peralihan, dari musim hujan ke musim kemarau.

“Periode peralihan ini umum­nya dicirikan dengan kondisi pagi hari yang cerah, siang hari yang terik dengan pertumbuhan awan yang pesat diiringi pening­katan suhu udara. Kemudian ter­jadi hujan pada siang menjelang sore hari atau sore menjelang malam hari,” jelasnya.

Koordinator Sub Bidang Infor­matif Gas Rumah Kaca BMKG, Albert Nahas, memprediksi musim kemarau di Jakarta terjadi pada Mei 2024 dan akan men­capai puncaknya pada Juni 2024.

Baca juga : Hakim Gazalba Banyak Transaksi Pakai Dolar

Diungkap Albert, dampak fenomena iklim global memiliki pengaruh terhadap PM2.5 yang merupakan salah satu partikel po­lutan. Konsentrasi PM2.5 cenderung tinggi di malam hingga pagi.

“Kualitas udara akan bergan­tung terhadap sumber emisi di wilayah tersebut,” tegasnya.

Artikel ini tayang di Rakyat Merdeka Cetak edisi Selasa, 7 Mei 2024 dengan judul Masuki Musim Kemarau Panjang, Polusi Di Jakarta Rawan Naik Lagi

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.