Dark/Light Mode

Hate Dan Love, Jukir Dibenci Tapi Dibutuhkan Agar Parkir Aman

Senin, 27 Mei 2024 06:50 WIB
Petugas gabungan dari Suku Dinas Perhubungan (Sudinhub), TNI/Polri, Satpol PP dan Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan (Jaksel) saat melakukan penertiban juru parkir (jukir) liar di sebuah minimarket di Tebet dan Setiabudi, Jaksel, Rabu (15/5/2024).Petugas gabungan melakukan penertiban serentak di lima wilayah kota DKI Jakarta selama satu bulan. (Foto: Nugroho Sejati/Berita Jakarta)
Petugas gabungan dari Suku Dinas Perhubungan (Sudinhub), TNI/Polri, Satpol PP dan Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan (Jaksel) saat melakukan penertiban juru parkir (jukir) liar di sebuah minimarket di Tebet dan Setiabudi, Jaksel, Rabu (15/5/2024).Petugas gabungan melakukan penertiban serentak di lima wilayah kota DKI Jakarta selama satu bulan. (Foto: Nugroho Sejati/Berita Jakarta)

RM.id  Rakyat Merdeka - Enam tahun Kodir menjadi juru parkir (jukir) minimarket di kawasan Kembangan, Jakarta Barat. Setiap hari, mulai pukul 09.00 WIB, Kodir sudah nongkrong di minimarket tidak jauh dari rumahnya. Dia tidak sendiri. Kodir jaga parkiran bergantian dengan rekannya.

Kodir tampil sederhana, mengenakan celana jeans dan kaos plus sendal jepit ketika berbin­cang-berbincang dengan Rakyat Merdeka, Senin (20/5/2024).

“Saya dari jam 9 pagi sampai jam 3 sore (jaga). Setelah itu yang jaga teman saya, sampai jam 10 malam,” kata pria 43 tahun ini.

Menjadi jukir memang bukan pilihannya. Namun, karena pendidikannya yang hanya tamat SMP, membuat Kodir sulit men­cari pekerjaan.

“Siapa sih yang mau jadi jukir, malu sebenarnya. Tapi mau gimana lagi, anak dan istri kan butuh makan,” katanya.

Baca juga : Nasib Ten Hag Belum Aman

Kodir juga sebenarnya ingin memiliki pekerjaan yang tidak dianggap sebelah mata serta membanggakan anak dan istri. Namun, hanya berijazah SMP susah mendapat kerja di Jakarta.

Sebelum menjadi jukir, dia kerap bergonta-ganti pekerjaan. Pernah jadi pengamen, buruh bangunan, cuci steam motor dan sebagainya. Yang penting, penghasilannya bisa bikin dapur di rumah tetap ngebul.

Soal penghasilan dari jukir, Kodir mengaku lumayan. “Lu­mayan buat kebutuhan sehari-hari, kalau lagi rame atau ada orang baik yang ngasih gede, bisa dapat Rp 150 ribuan,” ucapnya.

Namun, hasil tersebut tidak semuanya dikantongi Kodir. Ada setoran yang dikumpulkan ke Organisasi Masyarakat (Ormas) untuk kemudian dibagi ke se­jumlah pihak. Siapa pihak-pihak yang dimaksud? Kodir enggan mengungkapkan.

Kodir mengaku waswas dan bingung dengan penertiban jukir, harus mencari pekerjaan apa lagi. Mengingat usianya juga sudah tidak muda. Karena itu, dia meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mencarikan solusi pekerjaan untuknya.

Baca juga : Bulutangkis Malaysia Masters 2024, Indonesia Nirgelar

“Tolonglah, pemerintah miki­rin nasib orang seperti saya. Jangan cuma melarang,” harapnya.

Apalagi, selama ini Kodir mengaku bekerja dengan benar, membantu memarkirkan dan menjaga kendaraan pelanggan minimarket.

Dia juga tidak pernah me­maksa dan mematok tarif parkir. “Kalau pelanggan nggak punya uang receh, saya mah ikhlas saja. Tetap saya bantuin keluar atau menyeberang jalan,” ucapnya.

Sementara, Rita, seorang pelanggan minimarket yang dite­mui, mengaku pernah kesal dengan jukir di minimarket. Sebab, si jukir cuma mau uang saja.

“Saya datang dia duduk saja, nggak bantuin atau ngarahin parkir. Pas saya mau keluar lang­sung nyamperin. Begitu dikasih duit dia ngeloyor, duduk lagi,” protes Rita, kesal.

Baca juga : Sahroni: Tanya Stafsus SYL

Karena itu, Rita setuju ada penertiban jukir. Apalagi yang ogah kerja, tapi mau duitnya saja. Kendati menurut wanita 35 tahun tersebut, tidak semua jukir di minimarket seperti itu. Ada juga yang ramah dan serius bekerja.

“Bahkan jok motor saya di­tutupi pakai kardus biar nggak kepanasan,” ucapnya. Kepada jukir yang demikian, Rita tidak segan memberi uang lebih. “Kasih Rp 5 ribu atau Rp 10 ribu juga saya ikhlas,” akunya.

Menurut Rita, keberadaan jukir sebenarnya diperlukan para pelanggan minimarket agar tidak khawatir motor atau helm dicuri. Terutama saat belanja kebutuhan bulanan yang memakan waktu cukup lama. “Minimarket di pinggir jalan kan rawan pencu­rian,” katanya.

Rita setuju jukir yang hanya mau uang saja dan memaksa, harus ditertibkan. Tapi jukir yang benar-benar kerja dan mencari nafkah untuk keluar­ganya, tidak elok diberantas tanpa memberikan solusi ke­pada mereka.

Artikel ini tayang di Rakyat Merdeka Cetak edisi Senin, 27 Mei 2024 dengan judul Hate Dan Love, Jukir Dibenci Tapi Dibutuhkan Agar Parkir Aman

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.