Dark/Light Mode

Warga Jabodetabek Masih Idap Sindrom P13

Badan Pegel, Pala Pusing Dan Pendapatan Pas-pasan

Senin, 5 April 2021 06:00 WIB
Ilustrasi Transit Oriented Development (TOD). (Foto: bing.com)
Ilustrasi Transit Oriented Development (TOD). (Foto: bing.com)

 Sebelumnya 
Susah Nabung

Pengamat perkotaan, Yayat Supriyatna mengungkapkan, saat ini banyak warga yang terbebani tingginya biaya transportasi untuk menuju tempat kerja di Jakarta dari tempat tinggalnya di sekitar Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Bodetabek).

Menurut Yayat, cukup banyak warga yang gajinya hanya setara Upah Minimum Provinsi (UMP). Namun, ongkos transportasi yang harus mereka keluarkan hampir sepertiga dari gajinya itu.

Ongkos transportasi yang dimaksud Yayat adalah biaya bahan bakar untuk mereka yang menggunakan kendaraan pribadi, baik sepeda motor maupun mobil. Dia kemudian mencontohkan pekerja yang hanya digaji Rp 4,3 juta dan harus mengeluarkan biaya transportasi sekitar Rp 1 juta.

Baca juga : Biaya Logistik Masih Jadi Kendala UMKM Bersaing Di Pasar Domestik

“Kalau seperti itu nabungnya di mana? kalau bagi saya, itu sindrom P13. Yakni Pergi pagi pulang petang, pantat panas pinggang pegal, pala pusing pendapatan pas-pasan,” Cetus Yayat.

Menurut Yayat, sindrom P13 merupakan masalah besar. Ada efek domino yang menyebabkan hal tersebut.

Yayat menyebut, ada tiga komponen yang menyebabkan terpangkasnya pendapatan warga yang bermukim di kawasan Bodetabek. Yakni, biaya transportasi, biaya hunian, dan biaya hidup.

Ia menuturkan, persoalan dimulai dari biaya hunian. Menurut Yayat, semakin mahalnya harga tanah di Jakarta telah menyebabkan banyak orang memilih pindah ke daerah-daerah di pinggir Jakarta.

Baca juga : BRI Group Gercep Salurkan Bantuan Ke Jakarta Dan Sekitarnya

“Harga rumah yang semakin mahal menyebakan orang terpingggirkan. Di tengah kota pajaknya tinggi,” ujar Yayat.

Dia berpendapat, permasalahan berlanjut saat kawasan permukiman baru yang ada di daerah-daerah sekitar Jakarta tak dilengkapi angkutan umum yang memadai. Kondisi ini yang kemudian memaksa warga untuk memiliki kendaraan pribadi, baik sepeda motor atau mobil.

“Makanya sekarang muncul tsunami motor di mana-mana. Makin lama pengguna kendaraan pribadi semakin meningkat,” ucap Yayat.

Karena itu, dia menilai, warga mendesak sebuah sistem angkutan umum yang dapat membuat warga tidak perlu mengeluarkan biaya transportasi besar dan membuat perjalanan menjadi lebih efektif dan efisien.

Baca juga : Wapres Harap Masjid Jadi Pusat Peradaban Dan Pemberdayaan Umat Islam

“Jadi tidak perlu orang terpaksa dari rumahnya di Cibinong, di Depok ke Jakarta naik motor,” pungkas Yayat. [FAQ]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.