Dark/Light Mode

Rapor Merah Penanganan Covid-19 Jakarta

Wakil Ketua DPRD DKI: Kemenkes Tak Objektif, Lukai Perasaan Nakes

Jumat, 28 Mei 2021 14:31 WIB
Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Zita Anjani. (Foto: Ist)
Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Zita Anjani. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Penilaian buruk Kementerian Kesehatan (Kemenkes) penanganan Covid-19 di Jakarta dikomentari anggota dewan Kebon Sirih. Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Zita Anjani menyayangkan rapor merah dari Kemenkes yang dinilainya kurang objektif.

"Saya pikir, memberi penilaian sah-sah saja, tapi harus jelas tolak ukurnya, objektif, by data. Di Jakarta, kita tidak bisa hanya menilai dari angka penularannya, harus nilai dari segala sisi," kata Zita kepada RM.id, Jumat (28/5).

Menurutnya, DKI dinilainya menjadi salah satu provinsi yang paling responsif sejak awal pandemi. 

"Kualitas respon tenaga kesehatannya bagaimana? Angka kesembuhannya berapa? Angka kematiannya berapa? Menkes harus lihat itu. Sejauh ini, Dinkes DKI sudah kerja maksimal, kerja di atas rata-rata. Hasilnya jelas, data per 27 Mei, angka sembuhnya 95,7 persem, meninggalnya 1,7 persen. Ini lebih baik dari yang lain," paparnya.

Sekalipun penularannya meningkat, kata Zita, tidak bisa serta merta mendapat nilai paling buruk atau nilai E.

Berita Terkait : Perketat Jalur Masuk Ibu Kota, DPRD DKI: Lindungi Warga Yang Tak Mudik

"Ini jelas melukai banyak perasaan tenaga kesehatan di Ibu Kota Jakarta. Sama saja mengabaikan pengorbanan 18 tenaga kesehatan yang telah gugur melawan pandemi," ungkapnya.

Zita berharap, Kemenkes dapat mengevaluasi apa yang telah diucapkannya. "Kita tidak butuh nilai-nilai, Pemerintah pusat harusnya mendorong, mengayomi, dan memberi semangat tenaga kesehatan yang ada di daerah," tegas Politisi PAN ini.

Sebelumnya, Kemenkes memberi rapor merah, yakni nilai E, kepada Pemprov DKI Jakarta dalam pengendalian pandemi Covid-19. Penilaian Kemenkes dilakukan selama pekan epidemiologi ke-20 pada 16 hingga 22 Mei 2021.

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono menyatakan, berdasarkan data yang dimilikinya, Pemprov DKI menunjukkan respons yang paling buruk dibandingkan dengan daerah lain. Dante memaparkan, ada beberapa daerah yang masuk kategori D dan E dalam pengendalian kasus Covid-19.

Alasan Pemprov DKI termasuk yang mendapat nilai E yakni peningkatan keterisian ranjang rumah sakit atau bed occupancy rate (BOR) serta pelacakan kasus tak terlalu baik.

Baca Juga : Telkom Galang Bantuan Untuk NTT Lewat Postingan Medsos

"DKI Jakarta ini kapasitasnya E. Karena di DKI Jakarta bed occupation rate, keterisiannya sudah mulai meningkat," ujar Dante dalam RDP dan RDPU dengan Komisi IX DPR, Kamis (27/5).

Terus Meningkat Usai Lebaran

Akan tetapi, data kasus aktif Covid-19 memang terus meningkat di Jakarta pasca Lebaran Idul Fitri 2021. Data per 11 Mei 2021, angka kumulatif kasus Covid-19 di Jakarta sebanyak 416.747 kasus, dengan 402.374 orang dinyatakan sembuh, 6.952 orang meninggal dunia, dan 7.421 pasien masih aktif dirawat atau diisolasi.

Jumlah ini kemudian meningkat. Per 27 Mei 2021, angka kumulatif Covid-19 di Jakarta berada di angka 426.769 kasus, dengan pasien sembuh di angka 408.585, angka kematian 7.271, pasien aktif dirawat atau isolasi tembus angka 10.913.

Peningkatan kasus kebanyakan terjadi di klaster permukiman dan klaster keluarga yang menyebabkan lima RT di Jakarta berstatus zona merah dan 14 RT berstatus oranye.

Baca Juga : Basuki Targetkan Tol Cinere-Jagorawi Seksi 3 Rampung 2022

Koordinator RS Darurat Covid-19 Wisma Atlet Mayor Jenderal dr Tugas Ratmono menambahkan, tren kenaikan pasien mulai terjadi sejak 18 Mei 2021.

"Dari pantauan sejak 18 Mei kemarin, dashboard digital yang kami punya, terus meningkat grafiknya," tutur Tugas.

Tanggal 18 Mei lalu, hanya ada 900 pasien yang dirawat di RS Wisma Atlet. Tingkat keterisian RS Wisma Atlet saat itu hanya 15,02 persen. Namun, jumlahnya terus bertambah setiap harinya. Pasien masuk lebih banyak ketimbang pasien keluar.

Ditambahkannya, pasien yang tengah dirawat di RS Wisma Atlet didominasi klaster keluarga dan pemudik. Klaster keluarga menduduki peringkat pertama terbanyak. Para pasien dari klaster keluarga itu umumnya tak menerapkan protokol kesehatan saat bertemu dengan anggota keluarganya saat silaturahmi, sehingga terpapar. Adapun per Kamis (27/5), ada 1.618 pasien Covid-19 yang tengah dirawat di RS Wisma Atlet. [FAQ]