Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Sebelumnya
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin mengatakan, varian Omicron berkembang sangat cepat. Dalam kurun sepekan saja, jumlahnya melonjak delapan kali lipat. Dua pekan lalu, jumlah kasus Omicron di dunia terdeteksi masih 7.900. Namun, jumlah itu melesat jadi 62.342 kasus pada pekan lalu.
Jumlah negara yang telah terinfeksi varian Omicron ikut bertambah menjadi 97, dari sebelumnya 72 negara. Bertambahnya jumlah tersebut ikut mengubah posisi negara dengan kasus Omicron tertinggi di dunia. "Jadi, sudah mulai terjadi pergeseran populasi Omicron dengan paling banyak ada di Eropa," kata pria yang akrab disapa BGS.
Lalu, bagaimana kondisi terkait varian Omicron di Indonesia? Sampai saat ini, ada tiga kasus positif yang terjangkit Omicron. Pertama, petugas kebersihan Wisma Atlet Kemayoran. Dua lagi adalah WNI yang habis melancong dari Amerika Serikat dan Inggris.
Baca juga : Tangani Omicron, Luhut Pakai Jurus Threshold
Selain itu, Pemerintah juga masih menunggu hasil pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) dari tiga WNA asal China yang diduga terinfeksi Omicron atau probabel. Ketiganya masih menjalani masa karantina di Manado.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat, 60 orang dinyatakan positif melalui tracing terhadap kontak erat dari tiga kasus varian Omicron. Kata Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dari Kemenkes Siti Nadia Tarmizi, mereka telah berada di Wisma Atlet sambil menunggu hasil pemeriksaan WGS.
Nadia mengingatkan, para pelaku perjalanan internasional tetap menjalani masa karantina selama 10 hari dengan ditambah pemeriksaan PCR dua kali. Yakni, pada saat kedatangan dan saat karantina akan selesai.
Baca juga : Hadapi Omicron, Sentra vaksinasi Anak Dibuka Di Ancol
Epidemiolog dari Griffith University, Dicky Budiman mengapresiasi kesiapsiagaan Pemerintah yang telah menekan tombol darurat. "Ini menjadi suatu kewaspadaan. Kalau tidak ada intervensi yang memadai, dalam artian memutus penularan, tentu akan menjadi masalah. Seperti yang terjadi di Eropa dan Amerika," terangnya, kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.
Dicky menambahkan, potensi gelombang ketiga Covid-19 di Indonesia masih ada. Kapan tepatnya? Dicky tidak bisa memastikan. Mengingat dampak serangan Omicron di berbagai negara sangat bergantung pada imunitas negara itu sendiri.
Indonesia, lanjut Dicky, termasuk negara yang penduduknya pernah banyak terinfeksi dan menerima vaksinasi. Hal ini bisa meredam penularan. Begitu juga soal penduduk Indonesia yang mayoritas diisi anak muda, serta predikat negara kepulauan. Keempat hal ini dan intervensi kebijakan yang diambil pemerintah akan menentukan. [MEN]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya