Dewan Pers

Dark/Light Mode

Blak-blakan Dengan Arsjad Rasjid, Ketum Kadin Indonesia

Presiden Kasih PR, Kadin Gercep Konsolidasi Ke Seluruh Daerah

Rabu, 22 Desember 2021 06:40 WIB
Direktur Rakyat Merdeka, Kiki Iswara (kiri) dan Ketua Umum Kadin Indonesia, Arsjad Rasjid (kanan) dalam A-Satu Podcast. (Foto: TIK/RM).
Direktur Rakyat Merdeka, Kiki Iswara (kiri) dan Ketua Umum Kadin Indonesia, Arsjad Rasjid (kanan) dalam A-Satu Podcast. (Foto: TIK/RM).

RM.id  Rakyat Merdeka - Indonesia kini berperang menghadapi dua musuh. Yaitu, melawan Covid-19 dan perang ekonomi. Untuk memenangkannya, harus diterapkan strategi gotong royong. “Indonesia harus menang,” tegas Arsjad Rasjid, Ketua Umum Kadin Indonesia, dalam A-Satu Podcast With Kiki Iswara yang ditayangkan di channel RakyatMerdeka TV. Obrolan ini juga bisa didengarkan melalui akun A-Satu di kanal Spotify.

Apalagi tahun 2045, Indonesia ditargetkan masuk lima negara dengan ekonomi terbesar di dunia. Cita-cita itu, harus terus dikejar. Caranya? Dia mengingatkan empat pilar yang diusung Kadin.

Pertama, kesehatan. Bukan cuma industri kesehatannya. Tapi juga, Indonesia yang sehat. “Ini dijabarkan dalam konteks kesehatan sebagai tulang punggung,” jelasnya.

Berita Terkait : Idris Laena: Menangkan Golkar Dan Airlangga!

Kedua, ekonomi daerah untuk memperkuat ekonomi nasional. Kadin ingin menguatkan ekosistem pengusaha di daerah, khususnya UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah), sebagai pendukung supply chain ataupun product chain yang dibuat investor. Uniknya, setiap daerah punya kekuatan ekonomi sendiri-sendiri. “Dari provinsi turun ke kota. Nantinya kita lihat ke desa juga,” beber Arsjad.

Ketiga, kewirausahaan dari konteks UMKM. Arsjad meyakini, UU Cipta Kerja akan melahirkan banyak pengusaha. Nomor Induk untuk Berusaha atau NIB, kini mudah didapat. Sehingga, ke depan, pengusaha di sektor informal akan lebih banyak bisa masuk ke sektor formal. “Harapannya, supaya temen-temen UMKM dapat akses dana, dan lain-lain,” paparnya.

Keempat, penguatan fungsi internal dan regulasi Kadin. Arsjad bilang, Kadin sering bicara soal luar, tapi jarang melihat ke dalam. “Paling mudah liat orang lain, tapi liatin diri sendiri susah,” katanya. Padahal, cara kerja dalam organisasi sangat penting dan perlu diperbaiki. Makanya, kini ada digitalisasi di Kadin, agar informasi di seluruh wilayah dan asosiasi menjadi efektif dan efisien.

Berita Terkait : Program Makmur Untuk Petani Digenjot Habis-habisan

“Penting saling berkomunikasi, berinteraksi yang tidak tumpang tindih untuk menciptakan Bhinneka Tunggal Ika. Pendapat, masukan berbeda-beda, tapi bisa bersatu dan jadi kekuatan,” terang Arsjad.

Nah, empat pilar itu masuk dalam 17 program dalam Rapimnas Kadin, yang telah berlangsung beberapa waktu lalu, dengan tema besar: Bangkit Bersama. “Kadin adalah rumah bagi pengusaha besar, menengah, kecil, mikro, dan ultramikro,” ujarnya. Rapimnas Kadin digelar di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Kabupaten Badung, Jumat (3/12).

Sementara soal peperangan ekonomi, Arsjad menceritakan tentang pekerjaan rumah dari pemerintah dan peningkatan investasi sebagai faktor kunci agar roda ekonomi berjalan lagi. Realisasi investasi ini harus dikejar mati-matian.

Berita Terkait : KPK Minta Pemda Dan Sektor Usaha Satukan Visi

“Bagaimana memperbaiki ekonomi? Apa solusinya? Jawabannya, cuma satu mas. Duit mas, nggak ada lagi,” kata Arsjad. Tapi, bukan mencetak uang. Sebab, jika itu dilakukan, terjadi inflasi. Sementara meminjam uang, juga sulit. Nah, jalan keluarnya adalah mendatangkan investasi.

Sikap Kadin, tidak cuma mendorong datangnya investasi asing, tapi juga melahirkan investasi dalam negeri. Pihaknya mendukung target Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang dipimpin Bahlil Lahadalia. Bahkan, Wakil Ketua Umum Bidang Investasi Kadin Indonesia Tony Wenas, sudah meneken Memorandum of Understanding (MoU) dengan Menteri Bahlil Lahadalia untuk bersinergi dan menciptakan Indonesia Incorporated.

Arsjad, penerima penghargaan Young Global Leader 2011 dari World Economic Forum (WEF) itu menceritakan, pengalamannya berkunjung ke luar negeri bersama Menteri Bahlil. Mereka bertemu menteri ekonomi, menteri luar negeri, dan investor di negara tersebut. Keinginan investasi di Indonesia ada, tetapi muncul keraguan mereka. Pemerintah harus memberi keyakinan.
 Selanjutnya