Dewan Pers

Dark/Light Mode

Desa Adat Kasepuhan Ciptagelar Punya Stok Gabah Sampai 6 Tahun

Jumat, 14 Januari 2022 15:17 WIB
Ketua Adat Kasepuhan Ciptagelar Abah Ugi Sugriana Rakasiwi (tengah, berpakaian serba hitam), Kepala Biro Hubungan masyarakat Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) Erlin Chaerlinatun (ketiga dari kiri), usai berbincang dengan tim media saat Peringatan Sewindu UU Desa, Kamis malam (13/1). (Foto: Didi Rustandi/Rakyat Merdeka)
Ketua Adat Kasepuhan Ciptagelar Abah Ugi Sugriana Rakasiwi (tengah, berpakaian serba hitam), Kepala Biro Hubungan masyarakat Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) Erlin Chaerlinatun (ketiga dari kiri), usai berbincang dengan tim media saat Peringatan Sewindu UU Desa, Kamis malam (13/1). (Foto: Didi Rustandi/Rakyat Merdeka)

RM.id  Rakyat Merdeka - Masyarakat hukum adat di Kasepuhan Ciptagelar yang berada di pedalaman Gunung Halimun-Salak dikenal sebagai masyarakat yang memegang teguh adat dan tradisi yang bersandar pada budaya pertanian, khususnya padi.

Melalui pendekatan berbasis kearifan lokal, Kasepuhan Ciptagelar juga telah berhasil mewujudkan ketahanan pangan. Stok gabah yang dimiliki bahkan cukup untuk pasokan hingga 6 tahun.

Pemimpin Adat Kasepuhan Ciptagelar Abah Ugi menyampaikan, selama ini warga Kasepuhan Ciptagelar tetap mempertahankan cara tradisional dalam menanam padi karena dinilai lebih efektif.

Berita Terkait : Sidak Ke Gudang, Direktur Pupuk Indonesia Pastikan Stok Pupuk Subsidi Aman

Benih yang digunakan juga berbeda, sehingga membuat gabah yang disimpan di lumbung padi bisa bertahan lama hingga 20-50 tahun.

"Secara turun temurun kita diwariskan oleh leluhur untuk menanam padi secara tradisional. Kurang lebih ada sekitar 168 varietas padi yang disebar abah ke warga. Masing-masing padi itu diregenerasikan, jadi berbeda dari yang umum, juga diperlakukan secara alami dan tradisional tanpa bahan kimia, jadi kalau disimpan di lumbung padi bisa bertahan lama," kata Abah Ugi, kepada wartawan.

Hal itu disampaikannya saat Peringatan Sewindu UU Desa yang digelar Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT), di Desa Adat Kasepuhan Ciptagelar, Sukabumi, Jawa Barat, Jumat (14/1).

Berita Terkait : Gandeng BIN, Kemenkumham Gelar Vaksinasi Anak 6-11 Tahun

Karena bibit yang digunakan berbeda, masa panen berlangsung lebih lama hingga 7 bulan. "Kalau di tempat lain itu 2-3 bulan sudah bisa panen, di sini harus nunggu 7 bulan dulu baru bisa panen. Ini yang membuat gabah yang dipanen lebih tahan lama," ungkapnya.

Pola bertani masyarakat Kasepuhan Ciptagelar juga berpatok pada rasi bintang. Bertani mengikuti tanda dan simbol langit lewat bintang Kerti dan Kidang. Dengan mengikuti pola ini, bertani padi tidak akan gagal panen karena cuaca atau karena serangan hama.

"Di sini stok gabah yang tersedia melimpah. Gabah yang disimpan di lumbung-lumbung padi cukup untuk memenuhi pasokan 5-6 tahun," bebernya.
 Selanjutnya