Dark/Light Mode

Teroris Papua Sulit Ditumpas

Anak SD Dan SMP Sudah Dilatih Angkat Senjata

Minggu, 30 Januari 2022 08:58 WIB
Foto yang diambil West Papua Liberation Army dari Organisasi Papua Merdeka (OPM) pada Mei 2019 di daerah Nduga di dataran tinggi Papua menunjukkan kelompok bersenjata ini terdiri atas atas pria dewasa dan anak di bawah umur.(Foto: AP: OPM)
Foto yang diambil West Papua Liberation Army dari Organisasi Papua Merdeka (OPM) pada Mei 2019 di daerah Nduga di dataran tinggi Papua menunjukkan kelompok bersenjata ini terdiri atas atas pria dewasa dan anak di bawah umur.(Foto: AP: OPM)

 Sebelumnya 
Atas kejadian tersebut, Mahfud memastikan, Panglima TNI Jenderal TNI Andika Perkasa akan mengevaluasi pendekatan baru itu. Nantinya, TNI akan melakukan pendekatan di Papua. “Warga sipil harus dijaga keselamatannya. Sekarang bagaimana defence menurut Panglima TNI akan dievaluasi dan disempurnakan,” katanya.

Sementara itu, Andika meminta teroris Papua bertanggung jawab atas gugurnya tiga prajurit TNI. Karena menurutnya, tindakan tersebut sangat tidak berperikemanusiaan. Saat ini, kata dia nama-nama para pelaku penembak prajurit TNI telah diketahui.

“Berdasarkan penjelasan dari beberapa individu yang juga berada di Ilaga, termasuk barusan juga dengan seluruh jajaran di Kodam Cenderawasih. Intinya, sebetulnya dari pihak TNI tidak ada sedikit pun usaha-usaha yang memprovokasi, tidak ada,” tegas Andika di Mimika, Papua, Jumat (28/1).

Baca juga : Jaksa Dan Hakim Sudah Maksimal, Masih Ada Kesempatan Banding

Selain itu, dia juga telah mengevaluasi tentang yang harus dilakukan ke depan. Terutama, terhadap prajurit yang bertugas di Papua. “Untuk penambahan pasukan tidak ada. Tetap menggunakan mereka yang bertugas di sana untuk melakukan tugas-tugas Kodim dan Koramil,” cetus menantu Hendropriyono itu.

Pengamat militer dan intelijen, Susaningtyas Kertopati menyayangkan anak-anak yang harusnya mengenyam pendidikan di bangku sekolah sudah harus mengangkat senjata. Dengan kondisi ini, seharusnya Komnas Anak dilibatkan.

Ia tidak menapik, keberasaan teroris di Papua sulit diprediksi. Sebab, gerakan separatisme di Papua memiliki jaringan yang sangat fragmented. Artinya, tidak terdapat satu komando yang terstruktur, melainkan setiap kelompok memiliki pimpinan sendiri.

Baca juga : Terima Suap Proyek Rp 786 Juta, Bupati Langkat Ditersangkakan KPK

Padahal, sejauh ini penanganan Papua sudah dilakukan dengan berbagai cara, seperti pendekatan sosial dan ekonomi. Tetapi, penting juga untuk meningkatkan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, tokoh adat, dan tokoh agama.

“TNI Polri tentu juga harus memiliki jurus pendekatan yang tepat, termasuk humanis. Dan bagi kelompok kriminal bersenjata yang sudah lakukan aksi harus dihukum tegas,” kata wanita yang akrab Nuning saat dihubungi, tadi malam.

Ke depannya, perlu juga diimbangi komunikasi yang intens dengan Pemda, MPR, dan DPR Papua terkait sipil yang tak berdosa. Sebab Nuning yakin, warga setempat merasa ketakutan. Sehingga, persoalan Papua tidak bisa dikelola berlandaskan dendam satu ke dendam yang lainnya. [MEN]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.