Dark/Light Mode

Warga Kota dan Budaya Klik

Kamis, 10 Maret 2022 11:05 WIB
Dr. Tantan Hermansah, pengampu MK Sosiologi Perkotaan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan Anggota Komisi Infokom MUI Pusat
Dr. Tantan Hermansah, pengampu MK Sosiologi Perkotaan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan Anggota Komisi Infokom MUI Pusat

 Sebelumnya 
Pada 1998, Bourdieu, menulis sebuah buku berjudul “On Television”. Sebuah analisis tentang kehidupan manusia yang terbangun karena sebuah temuan: televisi. Di mana, antara lain ia mengatakan: “layar televisi saat ini menjadi semacam cermin bagi Narcissus, ruang bagi eksibisionisme narsistik”.

Betapa banyak di antara kita yang dibangun, dibentuk, ditumbuhkan oleh televisi. Benda yang tadinya merupakan produk kreatif kita untuk “hanya” memanjakan tontonan, kemudian berubah menjadi alat yang akhirnya membentuk kebudayaan.

Baca juga : Harga Jagung Rawan Melonjak

Dari televisi, banyak dari kita yang belajar, mendapatkan informasi, lalu mendapatkan perspektif tentang idola, dan kemudian melakukan reifikasi atas apa yang terlihat. Bahkan, tidak sedikit melalui gambar yang ditayangkan pada televisi itu juga, kita kemudian menautkan segumpal emosi. Seakan-akan kita terlibat dan menjadi bagian dari tayangan.

Di sini, televisi seakan-akan punya jiwa yang kehadiran tayangannya layak ditunggu. Sapaan umum dari pengisi acara di sana, seakan-akan merupakan sapaan personal, yang kemudian menyebabkan aspek emosinya makin terikat.

Baca juga : Ogah Maju Tanpa Perahu PKS

Para pemirsa tidak terlalu peduli jika apa yang dilakukan oleh pengisi acara, pemilik stasiun TV, maupun setiap kru yang bertugas dalam menyukseskan acara, merupakan upaya-upaya terukur dan terencana dari apa yang disebut sebagai kapitalisme televisi itu sendiri. Sebab bagi penonton, yang terpenting adalah bahwa dahaga hiburan mereka terpenuhi, walau harus menunggu jam tayang yang terbatas dan berwaktu.

Namun seperti diketahui bersama, kehausan kita akan hiburan bukanlah puncak dari semua kesenangan lahiriah manusia. Bahkan bisa dikatakan justru dalam kesenangan itu, yang ada adalah kehausan yang tidak berkesudahan. Seperti seseorang yang merasa haus ketika di tengah lautan, lalu ia meminum air laut sebagai penawar. Alih-alih kehausan itu akan hilang, yang terjadi malah rasa hausnya semakin berlipat.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.