Dewan Pers

Dark/Light Mode

Koruptor Merajalela, Rakyat Menderita

Sabtu, 6 Agustus 2022 08:05 WIB
Surya Darmadi alias Apeng. (Foto: Istimewa).
Surya Darmadi alias Apeng. (Foto: Istimewa).

RM.id  Rakyat Merdeka - Di tengah sulitnya kondisi ekonomi karena terdampak pandemi Covid-19, masyarakat masih harus dibebani dengan pajak dan kebutuhan lain. Mirisnya, uang dari rakyat untuk negara justru digondol koruptor.

Akun @keripikpedas.id mengunggah reels yang menyandingkan gambar koruptor Surya Darmadi atau Apeng, dengan keluhan rakyat terkait harga gas dan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang semakin naik, hingga pajak yang digenjot. “Astaghfirullah,” ujarnya.

gambar koruptor Surya Darmadi atau Apeng

Akun @julia_oloan_siregar ikut merasakan apa yang dikeluhkan rakyat Indonesia selama ini. Kata dia, dipungut pajak, tapi uang pajaknya malah dikorupsi. “Die yang korup, rakyat yang bayar,” katanya.

Akun @Al4mSyahputra mengatakan, pandemi Covid-19 membuat kehidupan masyarakat Indonesia semakin sulit. Hampir semua kebutuhan pokok naik, sementara penghasilan rakyat tidak naik, malah banyak yang cenderung menurun.

Berita Terkait : Ekonomi Global Melemah, Rupiah Melesat

“Sementara para pejabat hidup mewah, koruptor Merajalela, rakyat menderita,” ungkapnya.

Akun @STariga87743225 mengatakan, rakyat akan patuh bayar pajak jika pejabat korup dihukum berat dan dimiskinkan. Agar pajak yang dibayarkan rakyat tidak dibuat foya-foya para koruptor. “Koruptor makmur, rakyat nganggur,” ujar @P_etkLeeSegh. Akun @Jackma30608085 heran kenapa tidak ada hukuman dimiskinkan terhadap penjahat koruptor. Padahal, hukuman memiskinkan para koruptor sangat bisa diterapkan.

“Rakyat disuruh rajin bayar pajak, saat ngumpul digarong koruptor. Sudah tersangka mulai 2014 nggak diapa-apakan. Setelah kabur baru teriak-teriak kayak kucing kawin,” cetus @mlgstop007.

Akun @purwantomilo menyarankan penegak hukum menghukum koruptor dengan hukuman sosial. Seperti, menyapu jalan, tidak usah dikasih upah dan cukup makan sehari.

Berita Terkait : Woi...Trotoar Untuk Pejalan Kaki, Bukan Buat Motor

“Nyapu jalan dari jam 6 pagi sampai jam 6 sore. Istirahat cuman makan siang. Pulang ya balik sel,” katanya.

Akun @Darma44066234 mengajak menghitung ulang antara pajak masuk dengan uang yang dikorupsi, besar mana nilainya. Kata dia, pantasnya seorang pejabat negara atau siapa pun ketika menjabat buat perjanjian kerja, apabila korup hukuman mati.

 

“Rakyat bayar pajak, sementara itu koruptor maling uang rakyat,” katanya.

Sementara, @cici_1945 mengkritisi cara Pemerintah menaikkan pendapatan negara dengan mengorbankan rakyat. Dia mengingatkan, Pemerintah tidak mengorbankan rakyat yang sudah sangat menderita akibat kenaikan semua bahan pokok.

Berita Terkait : Kalau Ganja Lepas Kendali, Nanti Menyesal

“Pejabat enak, tidak pernah merasakan jadi rakyat yang sedang susah,” ujarnya.

Akun @LaPasolle kesel dengan kebijakan yang mewajibkan rakyat menggunakan aplikasi PeduliLindungi. Kata dia, bukannya mengupayakan menangkap dan mengembalikan uang yang dilarikan koruptor ke Singapura, ini malah mengancam rakyat yang lagi susah menghadapi mahalnya harga cabe dan BBM. “Miris,” katanya.

“Pak @jokowi rakyat cari uang sekarang susah banget, tolong jangan diperberat lagi dengan maksa rakyat beli Pertamax, materai sudah Rp 10 ribu, pajak 11 persen, listrik naik,” tutur @daboyse.

“Tolong banget ini, mah. Kalian yang sekarang jadi pemimpin di Indonesia, terus korupsi, leha-leha, makan uang rakyat. Masih punya hati, nggak sih? Utang negara digedein, korup sana-sini, harga sembako naik, mata uang anjlok,” ungkap @NonaAle_04. [ASI]