Dewan Pers

Dark/Light Mode

Kembali Soroti Suara "Presiden 3 Periode"

Jokowi Tidak Mau, Tapi Tidak Melarang

Senin, 29 Agustus 2022 07:48 WIB
Presiden Jokowi saat menghadiri Musra Prajo, di Bandung, Minggu (28/8). (Foto: Istimewa)
Presiden Jokowi saat menghadiri Musra Prajo, di Bandung, Minggu (28/8). (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Jokowi kembali menyoroti wacana “presiden 3 periode” yang masih terus dikumandangkan para pendukungnya. Jokowi menegaskan, tidak mau, karena wacana itu melanggar konstitusi yang sudah membatasi jabatan presiden hanya dua periode. Meski begitu, Jokowi tidak mau melarang para pendukungnya yang terus menyuarakan wacana itu.

Wacana 3 periode dan perpanjangan masa jabatan presiden pertama kali muncul, Maret lalu. Wacana tersebut muncul berbarengan dengan wacana penundaan pemilu. Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menjadi salah satu anak buah Jokowi yang rajin mendorong wacana ini. Wacana itu kemudian disambut Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan dan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar.

Selama hampir dua bulan, wacana ini terus muncul di ruang publik dan meresahkan rakyat, karena berpotensi menabrak konstitusi. Sampai-sampai, mahasiswa mengancam akan menggelar demo besar-besaran pada 11 April 2022.

Berita Terkait : Barang Mati Dihidupkan Lagi

Sehari sebelum demo digelar, Jokowi menggelar rapat mendadak di Istana Bogor. Ia memastikan Pemilu digelar 14 Februari 2024. Ia pun meminta jajarannya untuk menghentikan spekulasi terkait penundaan Pemilu, perpanjangan jabatan, dan jabatan 3 periode.

Pernyataan Jokowi ini kembali mempertegas omongan sebelumnya bahwa ia akan taat pada konstitusi. Pernyataan ini juga membuat aksi mahasiswa yang akan digelar besar-besaran, tidak terjadi. Sikap Jokowi itu, seperti menjadi penanda wacana 3 periode selesai. Apalagi tak lama setelah itu, Menko Polhukam Mahfud MD menyatakan wacana 3 periode sudah tutup buku.

Namun, setelah empat bulan berlalu, wacana yang sudah terkubur dalam-dalam itu, coba dihidupkan lagi. Yang mendorong-dorong kali ini Ketum Projo Budi Arie Setiadi, saat berbicara di Musyawarah Rakyat (Musra), di Bandung, kemarin. Musra adalah forum yang digelar kelompok relawan Jokowi untuk menjaring nama capres 2024. Nama yang terpilih akan diserahkan ke Jokowi, tahun depan.

Berita Terkait : Jokowi Tidak Ingin Harga Tiket Pesawat Kerek Inflasi

Kepada Jokowi, Budi mengatakan, Musra ini semestinya tak perlu dilanjutkan lagi. Soalnya, semua relawan sepakat ingin Jokowi melanjutkan masa jabatan hingga tiga periode. "Kayaknya, Musra sudah berakhir dengan kesimpulan: lanjutkan, Pak," kata Budi, kepada Jokowi, yang hadir di acara tersebut.

Wakil Menteri Desa itu lalu mempertanyakan kenapa konstitusi membatasi masa jabatan presiden. Ia lalu mencontohkan Kanselir Jerman Angela Merkel bisa memimpin hingga 16 tahun. Begitu pula Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher yang memimpin Inggris sekian periode. "Demokrasi dan pembatasan masa jabatan adalah dua hal yang harus kita diskusikan lagi," ujar Budi.

Saat berpidato, Jokowi menanggapi pernyataan Budi dengan senyuman. Dia lalu menjelaskan aturan konstitusi. "Konstitusi tidak membolehkan. Sudah jelas itu. Saya akan selalu taat pada konstitusi dan kehendak rakyat. Saya ulangi, saya akan taat konstitusi dan kehendak rakyat," ucap Jokowi.

Berita Terkait : Ini Makna Motif Dan Warna Baju Paksian Yang Dipakai Jokowi Di Sidang Tahunan MPR

Kalimat yang sama kemudian ia ulang sama persis sekali lagi. Namun, justru para pendukungnya semakin kuat mendesaknya maju lagi sebagai capres. "Tiga kali!!!!" seru mereka. "Jokowi! Jokowi! Jokowi!" teriak hadirin sambil bertepuk tangan.
 Selanjutnya