Dark/Light Mode

Cerita Prof. Tjandra Umroh Di Awal 2023

Pelataran Kabah Hanya Boleh Dilintasi Orang Berpakaian Ihram

Jumat, 20 Januari 2023 09:39 WIB
Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara Prof. Tjandra Yoga Aditama bersama istri saat berada di Bandara King Abdul Aziz, Arab Saudi. (Foto: Istimewa)
Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara Prof. Tjandra Yoga Aditama bersama istri saat berada di Bandara King Abdul Aziz, Arab Saudi. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara Prof. Tjandra Yoga Aditama punya berita menarik dari Mekkah, Arab Saudi. Dia dan istri kembali melaksanakan ibadah umroh.

Terakhir, Prof. Tjandra mengaku, ia umroh saat masih bekerja di WHO Asia Tenggara, setelah mengikuti Rapat Haji di Riyadh 2017 lalu. Dalam umrah kala itu, dari Riyadh, dia menyebut telah pakaian ihrom untuk terbang ke Mekkah.

Prof. Tjandra menginap di Klinik Kesehatan Haji Indonesia, yang sebetulnya adalah Rumah Sakit untuk jemaah haji yang kosong karena di luar musim haji.

Baca juga : Ini Pesan Penting Prof. Tjandra, Soal Penyakit Tidak Menular, Yang Faktanya Paling Banyak Merenggut Nyawa

Sebelumnya, saat masih PNS di Kementerian Kesehatan, Prof. Tjanda beberapa kali juga bertugas ke Mekkah dan Madinah. Tepatnya pertama kali saat musibah Terowongan Mina tahun 1990. Dan terakhir berangkat haji di tahun 2014.

"Umroh awal tahun ini, kali ini saya menggunakan jasa travel umroh dan sepenuhnya hanya beribadah, tidak ada tugas kedinasan apapun juga," ungkap Prof. Tjandra dalam pesannya kepada RM.id, Jumat (20/1).

Prof. Tjandra memperhatikan, ada sejumlah hal menarik di awal kedatangannya di Arab Saudi. Kata dia, praktis semua petugas imigrasi adalah perempuan. Kini, Bandara King Abdul Aziz juga sudah amat modern dan bagus, lengkap dengan akuarium besar dan dekorasi wah lainnya.

Baca juga : Sambut Awal Tahun, Relawan Santrine Abah Ganjar Gelar Dzikir Dan Doa Bersama

Sementara, perjalanan bis dari Jeddah ke Mekkah praktis sama seperti waktu yang lalu. Suasana perhotelan di sekitar Masjidil Haram juga tidak banyak berubah, demikian juga pertokoan dan restorannya.

"Serta berbagai burung merpati atau burung dara yang beterbangan. Masjidil Haram masih terus dalam pengembangan dan ada konstruksi di sana sini," cerita mantan kepala Klinik Haji Indonesia Makkah 1991 ini.

Yang amat berbeda, ungkap Prof. Tjandra adalah, pelataran Kabah hanya boleh diisi oleh orang yang menggunakan pakaian ihram. Demikian juga di barisan depan di Masjidil Haram.

Baca juga : Relawan Ganjar Gelar Pelatihan Pengolahan Ikan Hasil Tangkap Dan Sosialisasi Keselamatan Berlayar

"Karena itu, cukup banyak orang yang pakai ihram tapi tidak umroh, hanya supaya tawaf di pelataran Kabah saja," ungkap mantan Ketua Pengawasan dan Pengendalian (Wasdal) Kesehatan Haji Indonesia 2014 ini.

Sementara buka tutup pintu dan tangga juga masih tetap terjadi di Masjidil Haram.

"Sehingga memang harus pandai-pandai cari jalan dan lokasi di dalam Masjid," ujar Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI ini. ■

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.