Dark/Light Mode

KPU Wacanakan Pemilu Digital

Sistem Manual Khawatir Jatuh Banyak Korban

Kamis, 16 Maret 2023 07:50 WIB
Direktur Utama/CEO Rakyat Merdeka Group, Kiki Iswara Darmayana (kiri) bersama Deputi Bidang Dukungan Teknis KPU, Eberta Kawima (kanan), Anggota Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP), J Kristiadi (kedua kiri) dan Tenaga Ahli Bawaslu, Dayanto (kedua kanan) saat prosesi Peluncuran Rakyat Merdeka Koran Pemilu dan Dialog OTW Nyoblos dengan tema “Pemilu Di Tengah Gejolak Ekonomi Politik Dunia” di Kantor redaksi Rakyat Merdeka, Jakarta, Rabu (15/3/2023). (Foto: Patra Rizki Syahputra/RM)
Direktur Utama/CEO Rakyat Merdeka Group, Kiki Iswara Darmayana (kiri) bersama Deputi Bidang Dukungan Teknis KPU, Eberta Kawima (kanan), Anggota Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP), J Kristiadi (kedua kiri) dan Tenaga Ahli Bawaslu, Dayanto (kedua kanan) saat prosesi Peluncuran Rakyat Merdeka Koran Pemilu dan Dialog OTW Nyoblos dengan tema “Pemilu Di Tengah Gejolak Ekonomi Politik Dunia” di Kantor redaksi Rakyat Merdeka, Jakarta, Rabu (15/3/2023). (Foto: Patra Rizki Syahputra/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemilu 2024 didorong untuk menerapkan pemilu digital. Banyaknya petugas penyelenggara pemilu yang meninggal dunia pada Pemilu 2019 menjadi perhatian sangat serius.

Deputi Bidang Dukungan Teknis Sekretariat Jenderal Komisi Pemilihan Umum (KPU) Eberta Kawima mengata­kan, negara lain banyak yang terkagum-kagum dengan penyelenggaraan pemilu di Indonesia. Pasalnya, penyelenggaraan­nya begitu rumit dan pelik.

“Sebetulnya kita bangga sebagai bangsa besar bisa menyelenggarakan pemilu dengan tidak berdarah-darah dan tidak ada pertumpahan darah,” ujar Eberta dalam dialog dan peluncuran RM Koran Pemilu di Kantor Harian Rakyat Merdeka di Gedung Graha Pena, Jakarta, kemarin.

Baca juga : NasDem: Itu Penodaan Terhadap Konstitusi

Eberta lantas mencontohkan penye­lenggaraan pemilu di Mexico dan negara lain banyak yang berdarah-darah. “Kalau hanya perselisihan sedikit itu wajar karena hanya romantika dalam pemilu,” kata dia.

Eberta menuturkan, KPU saat ini se­dang mencari cara dan solusi agar tragedi banyaknya korban petugas pemilu tidak terjadi lagi dalam Pemilu 2024. Sebab, da­lam Pemilu 2019 jumlah korban tergolong besar sebanyak 894 petugas yang mening­gal dunia dan 5.175 petugas mengalami sakit. “Dan ini menjadi perhatian media dan masyarakat yang sangat luas,” kata dia.

Sebetulnya, lanjut Eberta, pada Pemilu 2014 juga terdapat korban dari petugas KPU. Hanya saja tidak sebanyak Pemilu 2019, yaitu sekitar 100 orang. Jadi, tidak mendapat perhatian luas dari media dan masyarakat.

Baca juga : PN Jakpus Ada-ada Aja...

“Penyebab banyaknya petugas yang meninggal dunia karena faktor kelela­han,” katanya.

Dia mencontohkan, dalam Undang-Udang Pemilu Ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) wajib membuat sertifikat dan berita acara perhitungan suara hingga 100 salinan. “Ini harus dicari solusi dan salah satunya dengan digitalisasi,” kata dia.

Selain itu, kata Eberta, seluruh petu­gas pemilu mendapat bimbingan teknis (bimtek) dari KPU. Tapi kebanyakan penyebab meninggalnya bukan masalah teknis, tapi nonteknis.

Baca juga : Tolak Proporsional Tertutup, Paloh Khawatir Bisa Timbulkan Gesekan

“Dan itu terjadi biasanya pada hari H dan harus diselesaikan hari itu juga,” kata dia.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.