Dark/Light Mode

Prof. Tjandra: Bisa Picu Kematian, Polusi Udara Jangan Diabaikan

Rabu, 16 Agustus 2023 08:16 WIB
Prof. Tjandra Yoga Aditama (Foto: dok. pribadi)
Prof. Tjandra Yoga Aditama (Foto: dok. pribadi)

 Sebelumnya 
Ketiga, perlu dilakukan surveilans yang baik, untuk mengetahui pola gangguan kesehatan dari waktu ke waktu, sejalan meningkatnya polusi udara.

Di Australia misalnya. Ada data yang mengungkap, masa kebakaran semak-semak (bush fire), berkorelasi terhadap peningkatan angka masuk IGD akibat keluhan sesak napas.

Keempat, perlu dilakukan pemantauan kesehatan dan penanganan gangguan kesehatan, baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Untuk itu, pemantauan secara kohort perlu dilakukan.

Jangan Tambah Polusi Lain

Selain itu, ada tiga hal yang perlu dilakukan masyarakat, terkait tingginya kadar polutan di udara saat ini.

Pertama, sedapat mungkin membatasi aktivitas fisik berat di wilayah yang tinggi polusi udara, di wilayah yang tingkat kemacetannya tinggi.

Baca juga : Prof Tjandra Bagikan Tips Atasi Batuk Dan Ispa Akibat Polusi Udara

"Tentu hal ini tidak mudah dilakukan, tetapi setidaknya perlu jadi perhatian, kalau dimungkinkan," ucap Prof. Tjandra.

Tentang masker, penutup area hidung dan mulut ini tidak sepenuhnya dapat mencegah polutan udara masuk ke paru. Tapi, bisa membantu. Apalagi, masker juga dapat  mencegah penularan penyakit lain.

Kedua, masyarakat yang punya penyakit kronik pernapasan, jangan lalai mengkonsumsi obat rutin. Minumlah sesuai aturan.

Kalau ada perburukan dan keluhan tambahan (serangan asma misalnya), segera konsultasi ke petugas kesehatan. Atau setidaknya, gunakan obat yang memang sudah dianjurkan untuk mengatasi perburukan keluhan.

Ketiga, jangan tambah polusi lain masuk ke paru dan saluran napas kita. Stop merokok dan jangan membakar.

Jangan melakukan kegiatan yang menambah polusi udara di sekitar kita.

Batuk dan ISPA

Baca juga : Ini Saran Prof Tjandra Untuk Pemerintah Dan Masyarakat Atasi Polusi Udara

Karena keluhan utama dampak polusi tinggi saat ini adalah batuk-batuk dan ISPA, Prof. Tjandra menganjurkan masyarakat untuk banyak minum air.

Minum air dalam jumlah banyak, dapat mengencerkan dahak, sehingga mudah dikeluarkan dan jalan napas jadi bersih.

Kalau ingin konsumsi obat batuk yang dijual bebas, Anda harus memperhatikan jenisnya. Ada yang merupakan pengencer dahak (mukolitik), pengeluar dahak (ekspektoran) dan penekan batuk kering (antitusif).

"Pilihlah sesuai kebutuhan. Kalau dahak berwarna kuning atau hijau, berarti ada radang atau infeksi. Kalau batuk disertai keluhan sesak, atau setidaknya napas berat, maka mungkin diperlukan pelega napas (bronkodilator). Kalau keluhan batuk berkepanjangan, segera konsultasi ke petugas kesehatan," urai Prof. Tjandra.

Berhubung sebagian besar penyebab ISPA adalah virus, Prof. Tjandr mengatakan, penanganan penyakit ini tidak memerlukan antibiotika.

Cukup obat simtomatik (sesuai gejala), diet yang baik dan istirahat.

Baca juga : 50 Tahun PDPI, Prof Tjandra Ingatkan 5 Poin Pelayanan Dokter Spesialis Paru

"Tentu, kalau ISPA tidak kunjung membaik, pada sebagian kecil kasus dapat berkembang menjadi infeksi yang lebih berat, sampai ke pneumonia dan sebagainya," jelas Prof. Tjandra.

"Semoga, polusi udara dapat segera diatasi, demi kesehatan anak bangsa," imbuhnya.

Selain polusi udara di Jakarta, fenomena El Nino juga bisa mencetuskan kebakaran hutan.

Karena itu, Prof. Tjandra menyarankan, perlunya antisipasi dan preparedness untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.