Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Prof. Tjandra Beberkan 7 Fakta Mikroplastik, Ngeri, Bisa Tembus Jaringan Paru
Jumat, 6 Oktober 2023 11:28 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Mantan Direktur WHO Asia Tenggara Prof. Tjandra Yoga Aditama menyoroti soal mikroplastik di udara, yang kemunculannya sudah dilaporkan di berbagai negara. Seperti China (Beijing dan Shanghai), Inggris (London).
Belum lama ini, Jepang juga menyampaikan temuan mikroplastik di udara, sebagaimana dipublikasikan pada jurnal ilmiah Environmental Chemistry Letters.
"Saat ini, memang belum ada data mikroplastik di udara negara kita, Indonesia. Ada baiknya diteliti juga," kata Prof. Tjandra dalam pesan aplikasi yang diterima redaksi, Jumat (6/10/1023).
Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI/Guru Besar FKUI ini pun menyampaikan 7 fakta umum tentang mikroplastik, serta kaitannya dengan kesehatan paru dan pernapasan. Berikut uraiannya:
Baca juga : Program Bazaar Shopee Pilih Lokal, Fasilitasi Perajin Batik Tembus Pasar Global
1. Mikroplastik jelas merupakan bagian dari polusi, baik di air (yang dapat terminum atau termakan) atau di udara, yang tentu dapat terhirup masuk ke saluran napas dan paru.
2. Di udara, mikroplastik dapat dijumpai di luar (udara bebas) serta di dalam ruangan.
3. Data ilmiah jelas menunjukkan adanya partikel mikroplastik pada dahak. Bahkan, jaringan paru manusia.
"Ini antara lain karena ukuran partikelnya kecil, sehingga dapat masuk jauh ke dalam paru-paru," jelas Prof. Tjandra.
Baca juga : Ilmuwan Jepang Temukan Fakta, Mikroplastik Ada Di Awan
4. Bentuk dan konsentrasi pencemaran udara akibat mikroplastik, dipengaruhi gaya hidup masyarakat, aktivitas antropogenik, dan situasi metereologi setempat.
5. Harus diakui, penelitian dampak kesehatan paru akibat mikroplastik masih amat terbatas, sehingga jenis penyakit pasti yang dapat ditimbulkan, belum bisa ditentukan.
6. Meski belum dapat ditentukan secara pasti, ada lima mekanisme kerusakan dalam paru yang dapat terjadi akibat mikroplastik. Yaitu peradangan, sitotoksisitas, disfungsi barrier epitel, redox imbalance yang berhubungan dengan ketidakseimbangan oksidasi, serta kemungkinan efek sinergi dengan alergen secara umum.
7. Terkait mikroplastik, ada empat hal yang masih perlu diteliti di waktu mendatang. Tentu, akan sangat baik jika negara kita juga ikut meneliti.
Baca juga : Kejagung Tetapkan Tiga Tersangka Baru
Pertama, perlu diteliti, apakah ada kemungkinan dampak jangka panjang mengenai kemungkinan terjadinya asma, penyakit paru obstruktif klinis (PPOK), fibrosis paru, emfisema dan sebagainya.
Kedua, perlu dipelajari, bagaimana dampak nano mikroplastik, yang mungkin saja menyebar dari paru-paru melalui peredaran darah.
Ketiga, perlu ditelaah, apakah masuknya mikroplastik ke peredaran darah dapat menimbulkan dampak pada organ lain selain paru.
"Keempat, perlu diriset, bagaimana dan berapa lama mekanisme pernapasan membersihkan diri dari polusi mikroplastik ini," pungkas Prof. Tjandra, yang juga Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI).
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya