Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Terima Best Achievement Award Dari Rakyat Merdeka
Jaksa Agung Keras Ke Luar Tegas Ke Dalam
Selasa, 9 Januari 2024 08:15 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Jaksa Agung ST Burhanuddin dikenal sebagai pribadi yang tegas. Penegakan hukum yang dia terapkan bukan cuma tajam ke luar tapi juga keras ke dalam. Pejabat sekelas menteri ditangkap. Jaksa-jaksa yang ketahuan memainkan perkara, dihukum.
“Iya, orang melihat saya keras. Kadang-kadang terlalu keras. Sampai sekarang kami sudah pidanakan 7 jaksa. Kita peringatkan, (tapi) kalau masih terus (tidak berubah), apa boleh buat. Karena untuk penegakan hukum itu perlu ketegasan," kata Jaksa Agung, saat menerima Tim Rakyat Merdeka di ruang kerjanya, Gedung Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, Senin (8/1/2024).
Dalam kesempatan tersebut, Rakyat Merdeka memberikan Piagam Best Achievement Award untuk Jaksa Agung ST Burhanuddin. Penghargaan diserahkan Kiki Iswara Darmayana (Direktur Utama Rakyat Merdeka/ CEO RM Group) dan diterima langsung oleh Jaksa Agung ST Burhanuddin.
Rakyat Merdeka selama setahun terakhir melakukan kajian internal terkait kinerja Kejaksaan Agung dan penegakan hukum di Indonesia. Melihat data, fakta dan pandangan sejumlah pakar serta hasil survei, di tangan Jaksa Agung ST Burhanuddin, lembaga ini dinilai prima dan menunjukkan performa terbaiknya. Bahkan ada survei yang menempatkan Kejaksaan Agung di tingkat kepercayaan publik lebih dari 80 persen.
Jaksa Agung dinilai memiliki keberanian menangani kasus-kasus megakorupsi dengan kerugian negara mencapai puluhan triliunan rupiah. Seperti kasus Jiwasraya, Asabri, kasus minyak goreng, korupsi BTS Kominfo, dan kasus lainnya yang menyangkut hajat hidup orang banyak.
Banyak perkara big fish atau korupsi kelas kakap yang melibatkan pejabat negara dan pengusaha ternama, yang selama ini sulit disentuh aparat hukum berhasil dibongkar. Di sisi lain, Kejaksaan Agung juga melakukan penegakan hukum dengan cara transparan dan humanis, melalui penerapan restorative justice. Sebuah terobosan hukum untuk menyelesaikan, menyetop dan mencegah perkara-perkara kecil diproses di pengadilan, dengan tujuan mengutamakan rasa keadilan bagi semua. Penegakan hukum yang dilakukan Jaksa Agung saat ini, dinilai telah mematahkan anggapan lama. Tidak lagi tumpul ke atas tajam ke bawah. Namun, tajam ke atas dan humanis ke bawah.
Menerima penghargaan tersebut, Jaksa Agung menyampaikan terima kasih. “Ini bukan untuk saya tapi untuk institusi. Korps Adhyaksa. Ini menjadi penyemangat bagi kami, agar program-program yang sudah dibuat bisa berjalan baik. Akan saya sampaikan bahwa penghargaan ini adalah keberhasilan seluruh teman-teman jaksa,” katanya.
Kapuspenkum Kejagung Ketut Sumedana hadir mendampingi Jaksa Agung. Sementara dari Rakyat Merdeka, mendampingi Dirut Rakyat Merdeka, yaitu Ratna Susilowati (Direktur Pemberitaan), Riky Handayani (Pemimpin Redaksi) dan Wahyu Suryani (Kepala Redaktur Eksekutif). Juga Bambang Trismawan (wartawan), Khairizal Anwar dan Putu Wahyu Rama (wartawan foto).
Setelah penyerahan penghargaan, Rakyat Merdeka mendapatkan kesempatan eksklusif mewawancarai Jaksa Agung selama sekitar satu jam. Berikut ini kutipannya.
Baca juga : Jaksa Agung Keras Ke Luar, Keras Ke Dalam
Kejaksaan Agung saat ini dinilai masuk periode prima, dan dalam performa terbaiknya. Dulu ada anggapan hukum tajam ke bawah tumpul ke atas, tetapi sekarang justru tajam ke atas humanis ke bawah. Bagaimana tantangannya?
Ini tugas berat. Begitu masuk, saya bikin program. Alhamdulillah bisa dijalani. Bersyukur yang dikerjakan itu menyentuh dan dibutuhkan masyarakat. Tentu saja banyak tantangan. Apalagi, sudah telanjur ada cap jaksa itu nakal. Nah, bagaimana menghilangkan image ini. Kalau pekerjaan (penanganan kasus) tinggal di-push, teman-teman ilmunya sudah bagus, siap pakai. Saya dorong integritas ditingkatkan. Saya berharap, di akhir jabatan saya nanti, semua program bisa diteruskan. Siapapun penggantinya. Utamanya, penanganan kasus yang terkait dengan kebutuhan masyarakat atau hajat hidup orang banyak, sembilan bahan kebutuhan pokok, pemasukan negara dan sumber daya alam.
Kejaksaan Agung banyak menangani kasus yang nilai kerugian negaranya puluhan triliun rupiah. Apakah ada strategi khusus?
Kami misalnya menangani Jiwasraya, Asabri. Awalnya, kita tidak pernah menangani (perkara) sumber daya alam. Namun saat ini kita sudah menyentuh nikel, batubara, minyak goreng dan timah. Saya bilang, sentuh sekali saja. Lalu, selanjutnya tolong mereka itu (di Kementerian) membenahi. Kami menyentuh (perkara itu) harapannya, agar ke depan diperbaiki. Dalam kasus Garuda, misalnya, kami bekerja sama dengan BUMN untuk memperbaiki sistem dan efisiensinya. Dalam kasus BTS Kominfo juga begitu. Perkara berlanjut, tetapi pekerjaan proyeknya jangan sampai terbengkalai. Saya bersyukur, pernah bertugas di perdata, sehingga bisa mengetahui jalan memperbaikinya. Kebanggaan bagi saya sekarang, Kejaksaan bisa masuk semua lini pengadilan. Baik di pengadilan umum, ekonomi, korupsi, niaga, militer. Setelah terbit UU No 11/2021 tentang Kejaksaan RI.
Tingkat kepercayaan publik terhadap Kejaksaan saat ini sedang tinggi. Di atas 80 persen. Bagaimana mempertahankannya, sekaligus strateginya agar kepercayaan publik ini juga terjadi hingga level Kejati (Kejaksaan Tinggi) dan Kejari (Kejaksaan Negeri)?
Kami memantau secara rutin. Ada kunjungan kerja virtual setiap bulan. Kecepatan kerja harus bagus, berintegritas. Jangan sampai image jaksa memburuk lagi. Kami minta Kejati dan Kejari mempercepat penggarapan kasus. Kalau dirasa berat, kami beri supervisi. Di daerah kadang ada ewuh pakewuh. Misalnya, mau periksa Bupati, nggak enak. Itu manusiawi, meskipun secara aturan tidak boleh. Nah, kalau terjadi begitu, kami tarik kasusnya ke Kejati atau pusat.
Bagaimana sinergi Kejagung dengan penegak hukum yang lain, seperti KPK dan Polri?
Hubungan Kejaksaan dengan KPK dan Kepolisian, baik. Kami bisa mensupervisi, melakukan pendampingan dan tukar informasi. Kadang-kadang kalau ada perkara, ada berkas, kita cek siapa duluan. Kalau ada dua kita satukan. Mungkin saja masyarakat menilai ada rivalitas institusi. Tapi, kami sendiri tidak merasakan itu. Justru ada semangat bersama, untuk menghilangkan korupsi. Di tingkat provinsi, hubungan Polda dan Kejati juga bagus. Alhamdulillah, di Kejaksaan Agung, satu komando. Kalau di atas A, sampai ke bawah juga A.
Jadi, Jaksa Agung sekarang ini sikapnya tegas, keras tak hanya keluar tapi juga ke dalam ya?
Baca juga : Mardani Ali Sera: Kampanye Dan Tugas Berbeda Sangat Tipis
Orang melihat saya memang keras. Kadang-kadang terlalu keras. Sampai sekarang ada 7 jaksa sudah kami pidanakan. Awalnya, kita peringatkan baik-baik. Tapi, kalau masih terus (tidak berubah), apa boleh buat. Penegakan hukum itu kadang ada korban.
Bagaimana caranya meningkatkan kualitas SDM di Kejaksaan Agung?
Kami siapkan pendidikan. Kita update terus. Pendidikan dalam dan luar negeri juga ada. Saya sebetulnya ingin ada pendidikan jaksa dan hakim seperti dulu, agar terpadu. Sehingga saat melihat sebuah perkara, punya pemikiran yang sama. Saat ini kan tidak begitu. Maka muncul istilah, rambut sama hitam tapi pemikiran berbeda.
Bagaimana menjaga marwah Kejaksaan Agung di tahun politik?
Ada Instruksi Jaksa Agung Nomor 6 Tahun 2023 tentang Optimalisasi Peran Kejaksaan RI dalam Mendukung dan Menyukseskan Penyelenggaraan Pemilu Serentak 2024. Surat itu mengatur penanganan perkara dalam proses selama seseorang menjadi calon. Baik calon presiden, gubernur, walikota, bupati atau legislatif, kita tidak sentuh dulu. Setelah pemilihan, penanganan perkara dilanjutkan. Saya tidak ingin, institusi Kejaksaan terbawa oleh praktik politik praktis. Sejarah kelam jangan terulang. Institusi dijadikan alat politik.
Awalnya ada yang menilai skeptis terhadap kinerja Jaksa Agung. Usia sudah senior dan dikaitkan dengan kedekatan ke partai politik tertentu. Bagaimana menilai pandangan ini?
Saya memang senior. Dan karena pengalaman saya lebih banyak dari yang junior, maka saya bisa mengatasi dan memahami yang dikerjakan teman-teman jaksa. Tentang kaitan dengan partai politik, saya akui ini sempat jadi beban. Namun, saya pernah tanyakan hal ini kepada Presiden. Apakah saya dipilih menjadi Jaksa Agung karena dinilai ada kaitan dengan partai politik atau karena profesionalisme saya? Hal ini penting saya tanyakan. Apabila Presiden memilih saya karena kaitan partai, maka saya akan mundur. Namun, beliau menyampaikan, saya ditunjuk menjadi jaksa agung karena alasan profesional. Maka, saya menjawab siap. Dan saya akan membuktikan diri bahwa saya bekerja dengan profesional.
Apakah pernah mendapat tekanan tertentu atau intervensi saat menangani perkara, utamanya yang bigfish atau megakorupsi?
Saya garis bawahi dulu ya. Presiden saja tidak pernah intevensi. Maka, yang lain, kalau ada, ya saya kesampingkan. Hal inilah yang membuat saya ringan bekerja. Makanya, hantam terus perkaranya. Dirjen ada yang masuk (ditahan), menteri masuk, BPK masuk.
Baca juga : Teriakan Kemenangan Dari Ribuan Masyarakat Sambut Ganjar Di Tana Toraja
Presiden pernah mengatakan Indonesia ini termasuk yang paling banyak memenjarakan pejabat. Sebenarnya seberapa parah korupsi di negara kita?
Faktanya memang begitu. Masih banyak yang melakukan korupsi. Bahkan, mungkin bohong kalau ada daerah yang mengklaim bebas korupsi. Karena itu, saya bangkitkan semangat kawan-kawan jaksa. Saya sampaikan, jaksa yang bisa menunjukan prestasi, saya beri reward. Bukan berarti ditarget, tapi saya memberikan trigger, agar mereka tidak merasa anteng-anteng atau santai-santai saja dalam bekerja.
Bagaimana melakukan upaya sosialisasi pencegahan korupsi?
Di bidang intelijen ada bagian penerangan hukum, pendampingan. Bahkan ada direktorat khusus. Sehingga, jika ada proyek yang strategis, kami bisa dampingi. Dari sisi keperdataan juga ada, untuk melihat dari segi hukum yuridis.
Satu lagi pertanyaan terakhir. Mengapa ada dua wayang Bima dipasang di ruang kerja ini ya? Bagaimana maknanya?
Bagi saya, sosok Bima itu, kejiwaan yang toleh. Apa adanya dan terbuka. Sikap saya kan begitu juga. Kalau suka ya saya bilang suka. Kalau nggak ya, nggak. Saya nggak bisa pakai hati.
Padahal sosok keadilan itu wayang Yudhistira….
Wah, Yudhistira terlalu halus ya untuk penanganan perkara, hehehe (tertawa).
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya