Dark/Light Mode

Asesmen Madrasah: Formulasi Menuju Madrasah Ideal

Jumat, 30 Agustus 2024 20:24 WIB
Dr. H. Muchamad Sidik Sisdiyanto, Direktur KSKK Madrasah, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama RI. Foto: Istimewa
Dr. H. Muchamad Sidik Sisdiyanto, Direktur KSKK Madrasah, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama RI. Foto: Istimewa

 Sebelumnya 
Menyongsong Formulasi AKMI

Program AKMI merupakan sistem penilaian yang dicanangkan untuk mengukur kemampuan siswa di madrasah dalam berbagai kompetensi inti yang relevan dengan kurikulum nasional.

Sebab itu, dalam tindaklanjutnya, AKMI juga terintegrasi dengan kurikulum yang berlaku di madrasah termasuk Kurikulum Merdeka dan barang tentu selaras dengan Pedoman Implementasi Kurikulum Merdeka pada RA dan Madrasah (sesuai KMA 450 Tahun 2024), yakni sama-sama berfokus pada penguatan pendidikan karakter, kompetensi esensial, pembelajaran yang kontekstual dan fleksibel, pemanfaatan teknologi, dan lain sebagainya.

Melalui integrasi ini, AKMI dapat membantu pihak sekolah dan guru memastikan siswa menguasai berbagai kompetensi esensial yang diharapkan. Dengan begitu, AKMI dapat berperan sebagai medium yang efektif untuk mengukur dan mendukung pencapaian tujuan-tujuan dari Kurikulum Merdeka.

Selain tujuan utamanya yaitu menyediakan informasi diagnostik kemampuan siswa madrasah dalam literasi membaca, literasi numerasi, literasi sains, dan literasi sosial budaya, AKMI juga dianggap dapat menggantikan sebagian fungsi UAMBN (Ujian Akhir Madrasah Berstandar Nasional) dan UN (Ujian Nasional) dalam melakukan evaluasi sistem pendidikan nasional.

Baca juga : PNM Dorong Nasabah Unggulan Jadi Mentor Usaha

Fungsi lain yang dapat disediakan AKMI adalah fungsi untuk mengukur pencapaian belajar peserta didik, sebagai umpan balik bagi perbaikan pembelajaran madrasah. Namun AKMI tidak digunakan sebagai salah satu syarat penentuan kelulusan.

AKMI ini relatif berbeda dengan sistem UAMBN dan UN terutama dalam teknis uji kompetensi. Dalam AKMI digunakan asesmen yang bersifat adaptif dengan mengadopsi metode Multi Stage Adaptive Testing (MSAT).

Dengan MSAT, setiap siswa akan mengalami pengalaman yang berbeda saat mengikuti asesmen. Soal yang mereka peroleh akan disesuaikan dengan kemampuan yang terdeteksi mulai dari awal.

AKMI dilaksanakan dengan berbasis komputer (BK) bentuk soal asesmen yang beragam seperti pilihan ganda, pilihan ganda kompleks, isian singkat, benar-salah, serta menjodohkan. Inovasi teknis uji kompetensi ini hanya sekadar contoh kasus dari beberapa program turunan AKMI, terutama dalam konteks landasan metodologis.

Impelementasi AKMI baik secara filosofis maupun teoritis berperan penting dalam mencetak generasi unggul. Landasan filosofis seperti pembelajaran yang terpusat pada siswa, misalnya, dapat menjadikan siswa aktif dalam proses pembelajaran.

Baca juga : Dukung Bahlil, Pemuda Golkar: Figur Tepat Pimpin Partai Menuju Masa Depan

Siswa dalam konteks ini berperan sebagai subjek yang dapat leluasa belajar di kelas, mengeksplorasi ide-ide baru, serta mendiskusikannya, sementara guru berperan sebagai fasilitator yang dapat menghubungkan pengetahuan baru dan pengalaman yang dimiliki siswa serta mendorong mereka mengimplementasikan apa yang telah dipelajari dalam kehidupan nyata.

Memosisikan siswa sebagai subjek dalam proses pembelajaran di sisi lain merupakan langkah yang ideal dalam menghadapi tantangan dunia modern. Mereka senantiasa akan menjadi individu yang merdeka yang mampu berpikir kritis, memiliki kemampuan dalam menganalisis, mengevaluasi, serta menyelesaikan masalah.

Inilah kompetensi yang dibutuhkan pada abad ke-21. Di satu sisi kompetensi ini juga perlu diiringi dengan sikap karakter siswa yang luhur, seperti tanggung jawab, empati, dan kejujuran. Karena itu, integrasi nilai moral dan spiritual juga menjadi landasan AKMI dalam membentuk karakter luhur siswa.

Selain landasan filosofis, landasan teoritis yang ditautkan dengan berbagai teori pendidikan dan psikologi belajar seperti teori konstruktivis, Multiple Intelligences, serta teori belajar sosial juga dapat membangun suasana lingkungan belajar yang terpusat pada siswa.

AKMI berorientasi pada pengakuan akan pentingnya pengembangan berbagai jenis kecerdasan siswa. Karena itu, landasan teori Multiple Intelligences dapat menjadi rujukan bagi seorang guru untuk melakukan pendekatan pembelajaran yang variatif. Guru dapat menargetkan beragam kecerdasan seperti verbal, interpersonal, intrapersonal, musikal, visual-spasial, dan lain sebagainya.

Baca juga : Kemenkop UKM Kolaborasi Dengan Baznas Gelar Pelatihan Vokasional

Dengan begitu, kecerdasan siswa yang beragam tersebut dapat tersalurkan dengan baik sesuai kekhasannya masing-masing. Agar landasan di atas dapat terimpelementasi dengan baik, dalam praktiknya, konektivitas jejaring antar lembaga pendidikan dan penelitian penting dilakukan oleh madrasah sebagai implementator AKMI.

Jejaring antar lembaga berperan sebagai cara bertukar pengetahuan, pengalaman, sekaligus sumber daya untuk memperbaiki dan mengevaluasi proses AKMI di lapangan.

Selain itu jejaring antar lembaga juga memungkinkan terciptanya pengembangan inovasi dalam desain asesmen. Hal ini tentu dibutuhkan dalam rangka meningkatkan kapasitas para implementator AKMI dalam memperbaiki sistem asesmen yang sesuai dengan perkembangan pendidikan mutakhir.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.